Penelitian ini bertujuan menawarkan pendekatan alternatif untuk memahami audiens film secara geografis di Indonesia dengan melampaui keterbatasan data box office agregat. Metode penelitian menggunakan data web-crawling atas performa harian film yang kemudian dirujuksilangkan dengan data demografis. Analisis didasarkan pada data empiris 166.874 penonton di 51 kota, 178 bioskop, dan 29 hari penayangan teatrikal (7 Februari–6 Maret 2024). Hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan regional yang signifikan dalam keterlibatan penonton, tingkat okupansi, dan penetrasi pasar. Pulau Jawa mendominasi 75,3% total penonton meskipun hanya merepresentasikan 49% kota yang diamati, sedangkan Maluku dan Papua hanya menyumbang 0,9% audiens. Wilayah metropolitan Jabodetabek sendiri mencakup 48,2% penonton nasional, menandakan konsentrasi geografis yang sangat tinggi. Tingkat okupansi juga bervariasi, dari 34,5% di Maluku dan Papua hingga 64,3% di Kalimantan, yang mengindikasikan perbedaan kematangan pasar dan kapasitas infrastruktur. Secara temporal, 87,4% pendapatan diperoleh dalam dua minggu pertama penayangan. Penelitian ini merekomendasikan agar pemasar film dan distributor menyusun strategi promosi yang lebih terarah secara regional, sementara studi lanjutan dapat mengembangkan pendekatan ini untuk riset audiens film yang lebih komprehensif.
Copyrights © 2026