Bahasa Arab dikenal kaya kosakata dengan banyak sinonim, namun setiap lafaz memiliki nuansa semantik yang khas. Dalam kajian al-Qur’an, perbedaan makna ini penting untuk menghindari penyamaan yang dapat mengaburkan pesan etis. Penelitian ini membandingkan penafsiran tiga lafaz kebencian al-maqt, al-karh, dan al-baghdā’ menurut al-Baghawī dalam Ma‘ālim al-Tanzīl dan Fakhr al-Dīn al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb. Pemilihan ketiganya pada kajian ini untuk menelusuri hierarki intensitas kebencian dalam teks al-Qur’an Dengan metode tafsir muqāran dan teori taraduf, ditemukan bahwa al-Baghawī menafsirkan secara ringkas, normatif, dan berbasis riwayat, sementara al-Rāzī lebih analitis-filosofis dengan penekanan pada aspek linguistik, etika, dan sosial. Perbedaan ini tampak misalnya pada al-karh, di mana al-Baghawī menegaskan makna keterpaksaan, sedangkan al-Rāzī memperluasnya pada dinamika psikologis manusia. Meski berbeda pendekatan, keduanya sepakat bahwa al-maqt merepresentasikan kebencian Ilahi, al-karh terkait kebencian atau keterpaksaan, dan al-baghdā’ menggambarkan kebencian sosial destruktif. Penelitian ini menegaskan bahwa ketiga lafaz tersebut bukan sekadar sinonim, melainkan memiliki distingsi semantik dan etis yang signifikan, sekaligus memberikan kontribusi pada pengembangan studi linguistik Qur’ani dan pemahaman sosial yang konstruktif.
Copyrights © 2026