Pembelajaran matan al-Syatibiyyah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan tradisi qira’at sebagai salah satu cabang utama ilmu al-Qur’an. Namun, praktik pembelajarannya di Aceh masih berlangsung secara beragam dan belum sepenuhnya terlembaga secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan pelaksanaan pembelajaran matan al-Syatibiyyah dalam konteks formal dan nonformal, mengkaji metode, strategi, serta tantangan yang dihadapi, dan mengungkap kontribusinya terhadap transmisi ilmu qira’at di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan yang dipadukan dengan studi kepustakaan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dosen qira’at Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Ar-Raniry, muqri’ Halaqah Syaykh Abdul Qadir, pembina dan dewan juri MTQ Aceh, serta pengajar dan santri qira’at di RIAB. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matan al-Syatibiyyah dilaksanakan melalui hafalan parsial bait-bait tertentu, penjelasan kaidah qira’at, dan praktik talaqqi langsung dengan strategi yang adaptif terhadap kondisi peserta didik. Tantangan utama meliputi keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan dasar peserta, serta minimnya dukungan kelembagaan. Meski demikian, pembelajaran matan al-Syatibiyyah berkontribusi nyata dalam memperkuat otoritas keilmuan, menjaga kesinambungan sanad, memetakan perbedaan qira’at, serta melestarikan tradisi qira’at melalui MTQ dan komunitas nonformal di Aceh.
Copyrights © 2026