Kecemasan berbicara di depan umum merupakan salah satu hambatan psikologis utama siswa yang dapat melumpuhkan potensi akademik dan menurunkan efikasi diri di sekolah. Layanan bimbingan konseling konvensional sering kali menghadapi resistensi psikologis dari siswa yang merasa terintimidasi oleh interaksi tatap muka langsung. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan dekonstruksi ilmiah mengenai pemanfaatan arsitektur fitur dan kapabilitas platform digital dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik untuk mereduksi kecemasan berbicara pada siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan analisis tematik yang mengintegrasikan berbagai literatur ilmiah kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran komunikasi asinkronus berbasis teks efektif memicu efek keterbukaan daring bagi siswa dengan kecemasan parah, sementara saluran sinkronus melalui panggilan video krusial untuk menangkap isyarat nonverbal siswa pada interaksi lanjutan. Digitalisasi tahapan komunikasi terapeutik dapat terlaksana secara utuh melalui pemanfaatan ragam fitur aplikasi, seperti pesan suara untuk transmisi empati verbal fleksibel, terapi menulis ekspresif via dokumen kolaboratif awan, teknik pemodelan virtual melalui berbagi video simulasi mandiri, serta penyaluran mediasi spiritual Islami berbasis multimedia. Kendati menawarkan efektivitas yang tinggi, optimalisasi konseling digital ini tetap menuntut kesiapan praktisi bimbingan konseling dalam memitigasi hambatan teknis berupa distorsi semantik teks, kesenjangan infrastruktur jaringan, dan penegakan etika keamanan siber demi menjaga kerahasiaan data siswa secara absolut.
Copyrights © 2026