Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis formulasi strategi bisnis Daisy Group, sebuah perusahaan logistik nasional skala menengah, dalam menghadapi volatilitas industri logistik Indonesia yang ditandai dengan biaya tinggi (14,29% PDB), perang tarif yang tidak teregulasi, dan penegakan kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Overload). Menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif yang didukung oleh metode Quantified SWOT (IFAS/EFAS), penelitian ini mengevaluasi penerapan Teori Niche Market dan Strategi Focus Differentiation Porter. Hasil analisis menempatkan perusahaan pada Kuadran I (Growth) dengan skor IFAS 3.30 dan EFAS 2.85. Temuan kunci penelitian ini adalah penerapan "Strategi Ujung Tombak" (Spearhead Strategy) melalui anak usahanya yaitu Perusahaan Bongkar Muat (stevedoring) yang mengadopsi budaya keselamatan Jepang secara ketat. Kemampuan teknis ini digunakan sebagai diferensiator utama dalam menangani kargo berisiko tinggi (produk baja dan alat berat), yang kemudian membuka jalan bagi layanan logistik terintegrasi lainnya. Perusahaan juga menunjukkan disiplin strategis dengan membatasi ruang lingkup layanan pada area pelabuhan (port-side) untuk proyek-proyek strategis negara (℅: MRT dan pembangkit listrik) guna memitigasi risiko. Penelitian ini menyimpulkan bahwa spesialisasi teknis dan kepatuhan standar keselamatan adalah mekanisme pertahanan paling efektif bagi perusahaan menengah di tengah konsolidasi industri.
Copyrights © 2026