Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tingginya kasus penemuan penyakit TB baru menyebabkan penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) mencakup isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid yang bersifat hepatotoksik semakin meningkat dan penggunaannya dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan risiko kejadian hepatotoksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan durasi terapi anti tuberkulosis kategori I dengan kejadian hepatotoksisitas pada pasien tuberkulosis di rawat jalan Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain case cohort yang bersifat Retrospektif, dilakukan pada bulan Januari - Desember 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel total yaitu pada 14 pasien TB paru, dan pengumpulan data menggunakan data sekunder dari Rekam Medis pasien TB paru kategori I. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Spearman Rank dan uji Mann-Whitney U. Pola terapi yang diberikan pada pasien TBC paling banyak yaitu OAT KDT (isoniazid 150 mg, rifampisin 75 mg, pirazinamid 400 mg, dan etambutol 275 mg) pada fase intensif. Persentase kejadian hepatotoksisitas pada fase intensif hanya terjadi pada 1 pasien (9,1%) dan tidak terjadi hepatotoksisitas pada fase intensif dan lanjutan pada 13 pasien (90,9%). Hasil analisis menunjukkan nilai ρ value = 0,602 dan r = -0,145.
Copyrights © 2026