Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seni diplomasi dan retorika mangalehen hata dalam tradisi perundingan mahar patobang hata pada masyarakat Mandailing. Praktik ini merupakan proses musyawarah adat yang menggunakan bahasa kiasan, peribahasa, dan strategi komunikasi tidak langsung untuk menjaga keharmonisan antar keluarga serta menghindari konflik. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dan wawancara mendalam, penelitian ini membedah bagaimana nilai-nilai kearifan lokal seperti kesantunan, penghormatan, dan martabat keluarga diwujudkan dalam tutur kata tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terjadi pergeseran gaya komunikasi pada generasi muda yang cenderung lebih sederhana dan praktis akibat modernisasi, nilai-nilai inti dalam retorika tersebut tetap dipertahankan sebagai media pelestarian budaya. Secara keseluruhan, mangalehen hata berfungsi sebagai instrumen penting dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat hubungan kekerabatan masyarakat Mandailing melalui negosiasi simbolik yang bijaksana
Copyrights © 2026