Perkembangan pertanian hidroponik di kawasan perkotaan merefleksikan transformasi pola konsumsi menuju pangan yang lebih sehat, higienis, dan berkelanjutan. Dalam perspektif bisnis berkelanjutan, pemahaman terhadap sikap dan preferensi konsumen menjadi kunci dalam merancang strategi diferensiasi produk berbasis kualitas dan nilai lingkungan. Selada dan pakcoy sebagai komoditas utama hidroponik menawarkan atribut ramah lingkungan seperti minim pestisida dan efisiensi penggunaan sumber daya, namun efektivitas nilai keberlanjutan tersebut sangat bergantung pada persepsi dan prioritas konsumen.Penelitian ini bertujuan menganalisis sikap dan preferensi konsumen terhadap selada dan pakcoy hidroponik di CV Ihsan Farm, Bengkulu, dalam kerangka konsumsi berkelanjutan. Survei kuantitatif dilakukan terhadap 96 responden menggunakan accidental sampling. Sikap dianalisis dengan model multiatribut Fishbein, sedangkan preferensi diukur melalui skala Likert terhadap atribut harga, fisik daun, kebersihan, kesegaran, dan minim pestisida. Hasil menunjukkan bahwa sikap konsumen terhadap selada (Ao = 9,93) dan pakcoy (Ao = 10,01) berada pada kategori positif. Atribut kesegaran dan kebersihan menjadi determinan utama, sementara atribut minim pestisida memperkuat persepsi keberlanjutan produk. Preferensi terhadap selada tergolong tinggi (62,9) dan pakcoy sedang menuju tinggi (60,1). Penelitian ini mengidentifikasi adanya gap antara sikap dan preferensi, yang menunjukkan bahwa nilai keberlanjutan tidak secara otomatis menjadi prioritas utama dalam keputusan pembelian. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada integrasi model multiatribut dengan perspektif konsumsi berkelanjutan, yang menegaskan bahwa kualitas intrinsik produk menjadi mediator utama dalam penerimaan nilai lingkungan. Studi ini memberikan implikasi strategis bagi agribisnis hidroponik dalam merancang positioning produk berbasis sustainability yang selaras dengan preferensi pasar.
Copyrights © 2026