Penerapan smart farming berbasis Internet of Things (IoT) menunjukkan peran strategis dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan pertanian padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui pemanfaatan teknologi digital seperti sensor kelembapan tanah, sistem irigasi otomatis, dan analisis data real-time, petani mampu mengoptimalkan penggunaan sumber daya, menekan biaya operasional, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk, pestisida, dan air. Hasil pelatihan terhadap 50 peserta menunjukkan peningkatan efisiensi penggunaan air hingga 30%, penurunan penggunaan pupuk sebesar 20%, serta peningkatan hasil panen rata-rata 13–17% per hektar. Selain itu, teknologi ini mendorong transformasi pola manajemen usahatani dari berbasis intuisi menuju pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making). Dampak positif lainnya meliputi peningkatan adaptasi terhadap perubahan iklim, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, serta pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan melalui praktik pertanian berkelanjutan. Meskipun demikian, implementasi smart farming masih menghadapi kendala berupa keterbatasan literasi digital, infrastruktur internet, dan biaya investasi awal. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan kelompok tani menjadi faktor kunci untuk memperluas penerapan dan memastikan keberlanjutan smart farming sebagai model pertanian modern yang efisien, berdaya saing, dan ramah lingkungan.
Copyrights © 2026