Alokasi alamat IP yang tidak teratur pada jaringan Kelas C sering kali memicu pemborosan host yang tidak terpakai (IP address wastage). Di era efisiensi infrastruktur jaringan saat ini, teknik subnetting hadir sebagai solusi krusial untuk memecah jaringan besar menjadi beberapa sub-jaringan yang lebih kecil dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi alokasi IP address dan performa jaringan Kelas C dengan membandingkan dua metode pembagian subnet utama: Classless Inter-Domain Routing (CIDR) dan Variable Length Subnet Mask (VLSM). Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (literature review) dengan mengumpulkan, menyaring, dan menganalisis data sekunder dari 15 jurnal ilmiah, buku teks, dan dokumentasi teknis terkait topologi jaringan yang dipublikasikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa implementasi subnetting statis (CIDR) pada Kelas C masih menyisakan IP address kosong jika jumlah kebutuhan host antar-subnet tidak seragam. Sebaliknya, metode VLSM terbukti memberikan efisiensi alokasi IP address hingga mencapai di atas 90% karena mampu menyesuaikan subnet mask dengan kebutuhan riil setiap segmen jaringan. Selain menghemat ruang alamat, pembagian subnet yang tepat terbukti mereduksi broadcast storm dan meningkatkan manajemen keamanan jaringan. Studi ini menyimpulkan bahwa pemilihan metode subnetting yang adaptif seperti VLSM sangat direkomendasikan untuk optimalisasi jaringan Kelas C guna menghindari kelangkaan IP dan menjaga stabilitas performa lalu lintas data.
Copyrights © 2026