ABSTRACT Readers’ engagement with a literary work often begins with its title, a brief textual element capable of offering clues, expectations, and potential interpretations before the main text is read in its entirety. Despite this role, semantic studies have tended to focus more on the content of literary works than on titles as the first point of interaction between a text and its readers. In response to this gap, the present study examines the meanings embedded in three short story titles from the anthology Cerpen Pilihan Kompas 2022: Ihwal Nama Majid Pucuk, namely Mbah Diman Terbang Bersayap Malam, Manusia Kelelawar, and Hawa Panas. This research adopts a descriptive qualitative design grounded in Geoffrey Leech’s semantic framework. The data were obtained through close reading and systematic note-taking of the linguistic units constituting the titles, followed by identification, classification, and interpretation of their meanings. The findings reveal that all three titles operate on multiple layers of meaning. On the one hand, they contain denotative meanings that directly refer to particular objects, actions, or conditions, providing readers with an initial understanding of the texts. On the other hand, they also generate connotative meanings associated with symbolism, social experience, and cultural associations, thereby opening broader interpretive possibilities. These findings position the title as an active paratextual element that shapes readers’ interpretive orientation while demonstrating the interplay between conceptual and associative meanings in the construction of literary meaning. ABSTRAK Interaksi pembaca dengan karya sastra sering kali dimulai dari judul, sebuah unsur yang meskipun singkat mampu menghadirkan petunjuk, dugaan, bahkan kemungkinan penafsiran sebelum isi teks dibaca secara utuh. Kendati demikian, perhatian penelitian semantik lebih sering diarahkan pada isi karya dibandingkan pada judul sebagai bagian yang pertama kali membangun hubungan antara teks dan pembaca. Berangkat dari kondisi tersebut, kajian ini menelaah bentuk pemaknaan yang hadir pada tiga judul cerpen dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2022: Ihwal Nama Majid Pucuk, yakni Mbah Diman Terbang Bersayap Malam, Manusia Kelelawar, dan Hawa Panas. Penelaahan dilakukan dalam kerangka penelitian kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan perspektif semantik Geoffrey Leech. Data diperoleh melalui pembacaan intensif dan pencatatan terhadap satuan bahasa yang membentuk judul, kemudian ditafsirkan melalui proses pengenalan data, pengelompokan, dan interpretasi makna. Hasil kajian memperlihatkan bahwa ketiga judul tidak bekerja hanya pada satu lapis pemaknaan. Di satu sisi, terdapat makna yang mengacu langsung pada objek, tindakan, atau keadaan tertentu sehingga memungkinkan pembaca memperoleh gambaran awal mengenai teks. Di sisi lain, muncul pula perluasan makna yang berhubungan dengan simbol, pengalaman sosial, serta asosiasi kultural yang membuka ruang interpretasi lebih luas. Temuan ini menempatkan judul sebagai unsur paratekstual yang aktif membentuk orientasi pembacaan sekaligus menunjukkan keterhubungan antara makna konseptual dan makna asosiatif dalam konstruksi makna karya sastra.
Copyrights © 2026