Penelitian ini mengkaji struktur geometri dan aljabar yang terkandung dalam kain tenun tradisional Ei Ledo milik klan Hubi Iki di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, melalui perspektif Ethnomathematics. Kajian mengenai tenun tradisional selama ini umumnya lebih berfokus pada aspek simbolik budaya dan nilai estetika, sementara analisis terhadap rasionalitas matematis dan struktur komputasional yang mendasari praktik menenun masih relatif terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi kualitatif yang dipadukan dengan analisis geometri, pemodelan aljabar, dan interpretasi grup simetri untuk mengidentifikasi pola-pola matematis pada motif dan proses produksi tenun. Hasil penelitian menunjukkan adanya penerapan algoritma tradisional “Mane” dengan rasio presisi satu kaki terhadap empat urat benang dengan total 144 urat benang, serta penggunaan logika Boolean dalam proses pewarnaan. Secara matematis, motif zig-zag dimodelkan sebagai fungsi periodik linear yang menyerupai gelombang segitiga, sedangkan motif lengkung “Hebe” menunjukkan karakteristik kurva polinomial berderajat tinggi. Selain itu, analisis struktur aljabar memperlihatkan bahwa motif mikro mengikuti grup simetri C2v yang menghasilkan efisiensi kognitif penenun sebesar sekitar 75% dalam proses produksi. Temuan ini membuktikan adanya penalaran matematis tingkat tinggi, komputasi mental iteratif, dan optimasi spasial dalam praktik tenun tradisional masyarakat Sabu meskipun tanpa penggunaan alat ukur modern. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori etnomatematika, pembelajaran matematika berbasis budaya, serta pendekatan interdisipliner yang menghubungkan pengetahuan lokal dengan pemodelan matematika kontemporer.
Copyrights © 2026