Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan utama di wilayah permukiman padat perkotaan, termasuk Kelurahan Sei Nayon, Kecamatan Bengkong, Kota Batam. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pengendalian jentik, inkonsistensi praktik 3M Plus, serta belum adanya sistem surveilans jentik berbasis komunitas menyebabkan Angka Bebas Jentik (ABJ) masih di bawah target nasional (≥95%). Kebaruan program ini terletak pada integrasi surveilans jentik berbasis data kuantitatif (ABJ dan House Index) ke dalam struktur kader RT sebagai model pengendalian vektor DBD yang mandiri, terukur, dan berkelanjutan. Program bertujuan meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat, membentuk Tim Kampung Bebas Jentik, serta meningkatkan ABJ melalui edukasi terintegrasi dan aksi sanitasi partisipatif. Kegiatan dilaksanakan selama delapan bulan (Maret–Oktober 2026) melalui sosialisasi, pelatihan kader, penyuluhan interaktif, survei jentik baseline dan evaluasi, serta aksi sanitasi lingkungan. Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pada 36 responden dengan kuesioner terstruktur. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan dengan rata-rata skor dari 44,7 menjadi 80,3. Proporsi responden berpengetahuan baik meningkat dari 6% menjadi 83%, sedangkan kategori kurang menurun dari 72% menjadi 0%. Sikap positif meningkat dari 8% menjadi 86%, dan ABJ naik dari 58,3% menjadi 91,7%. Selain itu, terbentuk satu Tim Kampung Bebas Jentik yang terdiri atas delapan kader terlatih serta satu dokumen Rencana Tindak Lanjut (RTL). Program ini terbukti dapat mendorong perilaku preventif dan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pengendalian vektor DBD di wilayah permukiman padat.Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue; Angka Bebas Jentik; Pemberdayaan Masyarakat; Kader Jumantik
Copyrights © 2026