Cuaca ekstrem merupakan salah satu faktor risiko utama dalam aktivitas pendakian gunung yang dapat mengancam keselamatan pendaki, terutama di wilayah rawan seperti Gunung Tampomas, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi pendaki terhadap ancaman cuaca ekstrem dan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapinya, berdasarkan kerangka Protection Motivation Theory (PMT). PMT menekankan dua proses kognitif utama: threat appraisal (perceived vulnerability dan perceived severity) serta coping appraisal (response efficacy, self-efficacy, dan response costs). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif univariat dengan metode survei terhadap 214 pendaki Gunung Tampomas via Cibeureum dan via Narimbang pada Oktober 2025. Sebagian besar responden memiliki kualitas persepsi (threat appraisal & coping appraisal) yang tinggi (77.1%) dalam menghadapi cuaca ekstrem. Namun, masih terdapat ruang untuk intervensi tertentu untuk meningkatkan kualitas persepsi pendaki, terlihat dari hasil yang menunjukkan adanya sebagian kecil pendaki yang masih memiliki tingkat kualitas persepsi rendah (0.9%) dan sedang (22%). Tingkat kualitas persepsi pendaki Gunung Tampomas terhadap risiko bahaya akibat cuaca ekstrem (threat appraisal) dan kesiapsiagaan pendaki untuk menghadapinya (coping appraisal) berada pada kategori tinggi. Beberapa aspek dari coping appraisal, terutama self-efficacy dan response cost, masih perlu ditingkatkan agar semakin meningkatkan kualitas persepsi pendaki terhadap ancaman dan mempersiapkan diri menghadapi situasi cuaca ekstrem.
Copyrights © 2026