Jurnal Ilmu Lingkungan
Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026

Klasifikasi Kemampuan Lahan sebagai Dasar Arahan Penggunaan Daerah Aliran Sungai Pakerisan Provinsi Bali

Ni Wayan Suprianingsih (Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas Pendidikan Nasional, Jl. Bedugul No.39, Sidakarya, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, Indonesia)
I Wayan Sandi Adnyana (Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Udayana, Bali)
I Gusti Agung Ananda Putra (Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pendidikan Nasional)



Article Info

Publish Date
11 Jun 2026

Abstract

DAS Pakerisan memiliki kerentanan terhadap degradasi lingkungan akibat keberadaan lahan kritis dan agak kritis. Dengan demikian, penelitian mengenai analisis kelas kemampuan lahan menjadi penting sebagai dasar perencanaan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan klasifikasi terhadap kelas kemampuan lahan serta menyusun arahan pemanfaatan yang sesuai untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan Land Capability Classification (LCC) melalui analisis spasial yang mempertimbangkan faktor kemiringan lereng, tekstur tanah, serta tutupan lahan. Proses klasifikasi juga memperhatikan faktor pembatas utama berupa kerentanan erosi yang menjadi karakteristik di DAS Pakerisan. Hasil analisis menunjukkan bahwa klasifikasi kemampuan lahan di wilayah DAS Pakerisan terbagi menjadi enam kelas berbeda. Unit lahan kelas I seluas 1.020,77 ha (11,32%), kelas II 463,59 ha (5,14%), kelas III 995,87 ha (11,05%), kelas IV 2.338,71 ha (25,94%), kelas VI 2.060,62 ha (22,86%), dan kelas VII 2.135,31 ha (23,69%). Arahan penggunaan lahan yang dihasilkan meliputi hutan lindung 137,42 ha (1,52%), kawasan lindung 1.199,69 ha (13,31%), budidaya tanaman tahunan 2.027,62 ha (22,49%), budidaya tanaman semusim 1.355,24 ha (15,03%), serta kawasan penyangga 4.294,97 ha (47,64%). Kelas IV merupakan kelas paling dominan, sedangkan kawasan penyangga menjadi bentuk arahan penggunaan terbesar. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pengelolaan terpadu melalui konservasi biofisik dan keterlibatan sosial-ekonomi masyarakat guna mendukung keberlanjutan DAS.

Copyrights © 2026