Industri kayu lapis merupakan sektor manufaktur penting di Indonesia. Namun, proses produksinya menghasilkan limbah cair mengandung bahan organik dan amonia dalam konsentrasi tinggi, yang apabila tidak diolah dengan baik dapat mencemari lingkungan. Selama ini, pengolahan limbah cair industri kayu lapis umumnya dilakukan secara kimiawi, yang meskipun cepat dan efisien dalam jangka pendek, memiliki beberapa kekurangan, seperti tingginya biaya operasional, produksi lumpur kimia yang besar, dan potensi menghasilkan residu berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, yaitu pengolahan secara biologis dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persentase penurunan dua jenis media pertumbuhan melekat, yaitu Biogrow dan Kaldness, dalam menurunkan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan amonia pada air limbah industri kayu lapis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap, menggunakan sistem sinambung selama 10 hari, dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Proses pengolahan dilakukan dalam skala kecil (miniplan) dengan sistem pertumbuhan melekat, dan persentase penurunan pengolahan dianalisis berdasarkan persentase penurunan COD dan amonia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Biogrow lebih efisien dibandingkan Kaldness, dengan persentase penurunan penurunan COD mencapai 72,73% dan amonia sebesar 52,23%, sedangkan Kaldness hanya menurunkan COD sebesar 62,57% dan amonia sebesar 39,84%. Persentase penurunan yang lebih tinggi pada Biogrow diduga disebabkan oleh luas permukaan media yang lebih besar serta struktur yang mendukung pertumbuhan biofilm dan aktivitas mikroorganisme. Kesimpulannya, Biogrow lebih unggul dalam meningkatkan persentase penurunan pengolahan air limbah industri kayu lapis secara biologis dibandingkan Kaldness, dan berpotensi menjadi alternatif media pengolahan limbah yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026