Krisis pengelolaan sampah akibat kegagalan model ekonomi linear mendorong urgensi desentralisasi tata kelola limbah berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi sampah menjadi nilai ekonomi melalui pendekatan circular economy berbasis masyarakat di Desa Jimbaran, Bali, sebuah kawasan yang memiliki karakteristik ganda sebagai pemukiman padat sekaligus pusat pariwisata pesisir. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi pasif, dan studi dokumen bersama informan kunci dari pengelola TPS3R, pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Jimbaran, pengelola bank sampah banjar, serta warga lokal. Analisis data menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem sirkular di Desa Jimbaran mampu mengelola aliran material sebesar 450 ton per bulan dengan total potensi valuasi ekonomi kotor mencapai hampir Rp 100 juta per bulan. Keberhasilan model ini ditopang oleh integrasi modal sosial-kultural di hulu melalui institusi Banjar Adat dan kearifan lokal Tri Hita Karana (awig-awig) yang menjamin kepatuhan pemilahan domestik, serta strategi inovasi finansial di hilir berupa kompensasi tarif asimetris (subsidi silang dari retribusi sektor industri pariwisata). Subsidi tersebut berfungsi sebagai dana penyangga (buffer fund) untuk meredam volatilitas harga pasar daur ulang global. Kesimpulannya, sinergi antara kepatuhan kultural dan pengelolaan ekonomi makro kawasan pariwisata mampu menciptakan model tata kelola sampah desentralistik yang tangguh, mandiri secara finansial, dan berkelanjutan secara ekologis.
Copyrights © 2026