Artikel ini menganalisis definisi iman dalam materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah dengan menempatkannya dalam lanskap perdebatan ilmu kalam dan aliran teologi Islam. Masalah pokok penelitian ini adalah apakah rumusan iman yang diajarkan pada tingkat Madrasah Aliyah benar-benar netral secara teologis atau justru merepresentasikan pilihan mazhab tertentu yang telah dipedagogisasikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan dan analisis isi terhadap dokumen kurikulum, buku ajar Akidah Akhlak Madrasah Aliyah, serta karya-karya klasik dan modern tentang konsep iman dalam teologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah mengajarkan iman sebagai kesatuan antara pembenaran hati, pengucapan lisan, dan pembuktian amal. Rumusan ini sangat efektif untuk kepentingan pembentukan karakter peserta didik karena menolak pemisahan antara dimensi kognitif, afektif, dan praksis keagamaan. Namun, secara teologis rumusan tersebut bukanlah definisi yang sepenuhnya netral. Ia lebih dekat kepada konstruksi Ahl al-Hadith dan arus Sunni normatif yang memandang iman terkait erat dengan amal, meskipun dalam penerapannya materi pelajaran tetap menunjukkan watak moderat dan tidak bergerak ke arah eksklusivisme Khawarij maupun skema al-manzilah bayna al-manzilatayn Mu’tazilah. Artikel ini berargumen bahwa kekuatan utama materi Akidah Akhlak terletak pada orientasi etik-pedagogisnya, tetapi agar lebih kokoh secara akademik, materi tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan komparatif mengenai ragam definisi iman dalam sejarah teologi Islam. Dengan demikian, pembelajaran iman di Madrasah Aliyah tidak hanya membentuk kesalehan normatif, tetapi juga literasi teologis yang kritis, proporsional, dan relevan bagi pendidikan Islam kontemporer.
Copyrights © 2026