Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Definisi Iman dalam Materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Berdasarkan Perspektif Ilmu Kalam dan Aliran Teologi Islam Muhammad Qusairi; M. Noor Fuady; Asikin Nor
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 4 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Juli 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i4.10205

Abstract

Artikel ini menganalisis definisi iman dalam materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah dengan menempatkannya dalam lanskap perdebatan ilmu kalam dan aliran teologi Islam. Masalah pokok penelitian ini adalah apakah rumusan iman yang diajarkan pada tingkat Madrasah Aliyah benar-benar netral secara teologis atau justru merepresentasikan pilihan mazhab tertentu yang telah dipedagogisasikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan dan analisis isi terhadap dokumen kurikulum, buku ajar Akidah Akhlak Madrasah Aliyah, serta karya-karya klasik dan modern tentang konsep iman dalam teologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi Akidah Akhlak Madrasah Aliyah mengajarkan iman sebagai kesatuan antara pembenaran hati, pengucapan lisan, dan pembuktian amal. Rumusan ini sangat efektif untuk kepentingan pembentukan karakter peserta didik karena menolak pemisahan antara dimensi kognitif, afektif, dan praksis keagamaan. Namun, secara teologis rumusan tersebut bukanlah definisi yang sepenuhnya netral. Ia lebih dekat kepada konstruksi Ahl al-Hadith dan arus Sunni normatif yang memandang iman terkait erat dengan amal, meskipun dalam penerapannya materi pelajaran tetap menunjukkan watak moderat dan tidak bergerak ke arah eksklusivisme Khawarij maupun skema al-manzilah bayna al-manzilatayn Mu’tazilah. Artikel ini berargumen bahwa kekuatan utama materi Akidah Akhlak terletak pada orientasi etik-pedagogisnya, tetapi agar lebih kokoh secara akademik, materi tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan komparatif mengenai ragam definisi iman dalam sejarah teologi Islam. Dengan demikian, pembelajaran iman di Madrasah Aliyah tidak hanya membentuk kesalehan normatif, tetapi juga literasi teologis yang kritis, proporsional, dan relevan bagi pendidikan Islam kontemporer.
Pendekatan Triad Asesmen dalam Penilaian Holistik Siswa pada Pembelajaran PAI Muhammad Qusairi; Dina Hermina
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Mei-Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i2.1913

Abstract

Penilaian dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak cukup dilakukan hanya dengan tes tertulis. PAI bertujuan membentuk pengetahuan agama, penghayatan nilai, kebiasaan baik, dan keterampilan menjalankan ajaran Islam. Karena itu, guru memerlukan cara menilai yang sederhana tetapi tetap utuh. Artikel ini membahas pendekatan Triad Asesmen sebagai kerangka penilaian yang menggabungkan tiga bentuk utama, yaitu asesmen tertulis, asesmen lisan, dan asesmen perbuatan atau unjuk kerja. Kajian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah dokumen kebijakan, buku evaluasi pendidikan berbahasa Indonesia, dan artikel ilmiah nasional tentang asesmen PAI. Hasil kajian menunjukkan bahwa asesmen tertulis berguna untuk melihat penguasaan konsep, ketepatan pemahaman, dan kemampuan menalar. Asesmen lisan membantu guru melihat kemampuan siswa menjelaskan, membaca, berdialog, dan merefleksikan nilai. Asesmen perbuatan paling tepat untuk menilai praktik ibadah, perilaku nyata, proyek, portofolio, dan pembiasaan. Ketiga bentuk asesmen tersebut saling melengkapi. Jika digunakan secara seimbang, guru tidak hanya memperoleh angka, tetapi juga gambaran perkembangan siswa secara lebih adil. Kendala utama penerapannya ialah keterbatasan waktu, jumlah siswa yang besar, beban administrasi, dan kemampuan guru menyusun rubrik. Artikel ini menyimpulkan bahwa Triad Asesmen dapat menjadi kerangka praktis untuk penilaian holistik PAI selama indikator, rubrik, umpan balik, dan dokumentasi bukti belajar disiapkan dengan baik.
Islamic Digital Citizenship: Kerangka Konseptual Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Muhammad Qusairi
Leadersia: Journal of Educational Management Vol. 1 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/leadersia.v1i2.157

Abstract

Transformasi digital telah mengubah ruang belajar dan ruang sosialisasi anak sekolah dasar. Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu diarahkan untuk membentuk kemampuan anak dalam berperilaku etis, aman, kritis, dan bertanggung jawab di ruang digital—tidak lagi cukup sebatas pengajaran pengetahuan keagamaan di kelas. Artikel ini bertujuan merumuskan Islamic Digital Citizenship sebagai kerangka konseptual baru bagi pengembangan PAI di sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain kajian konseptual berbasis telaah literatur integratif terhadap lebih dari dua puluh sumber yang dipilih secara purposif dari lima rumpun kajian: kewargaan digital, literasi media, hak anak dalam lingkungan digital, etika kecerdasan buatan, dan pendidikan Islam. Analisis dilakukan melalui pemetaan konsep, sintesis tematik, dan rekonstruksi normatif berdasarkan nilai adab, akhlak, amanah, tabayyun, dan maqashid syariah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islamic Digital Citizenship dapat dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu adab digital, literasi media kritis, dan perlindungan anak berbasis nilai Islam. Ketiga pilar tersebut diturunkan ke dalam enam dimensi operasional: identitas digital beradab, komunikasi digital bermoral, literasi informasi dan tabayyun, keamanan dan perlindungan data, pengendalian diri dalam konsumsi digital, serta partisipasi digital yang maslahat. Kebaruan artikel ini terletak pada rekonstruksi digital citizenship dari perspektif normatif Islam sebagai jembatan antara literasi digital kontemporer dan tradisi adab dalam pendidikan Islam. Kerangka ini memberi kontribusi teoretis bagi pengembangan PAI kontemporer sekaligus menawarkan arah praktis bagi guru, sekolah, orang tua, dan pembuat kebijakan dalam merancang pembelajaran PAI yang responsif terhadap tantangan kecerdasan buatan dan ekosistem digital anak.