Ritual Keo Rado di komunitas Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, merupakan praktik tradisional yang mencerminkan pemahaman lokal tentang kematian, hubungan dengan leluhur, dan keberlanjutan eksistensi setelah mati. Ritual ini tidak hanya berfungsi sosial-budaya, tetapi juga mengandung pandangan dunia kosmologis. Studi ini bertujuan menganalisis makna ritual Keo Rado dalam terang teologi penciptaan, khususnya mengenai martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan dan pemahaman tentang kehidupan setelah kematian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui riset pustaka, yang berfokus pada literatur antropologi dan teologi yang berkaitan dengan budaya masyarakat Ngada, ritual kematian tradisional, dan teologi penciptaan. Analisis dilakukan melalui refleksi teologis interpretatif dan kontekstual tentang makna simbolis yang ada dalam ritual tersebut. Studi ini menemukan bahwa ritual Keo Rado mencerminkan kesadaran mendalam akan hubungan yang saling terkait antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Dalam perspektif ini, kematian tidak dipahami sebagai akhir dari eksistensi tetapi sebagai transisi menuju dimensi kehidupan lain yang tetap terhubung dengan komunitas dan sumber kehidupan ilahi. Penelitian ini menyiratkan bahwa tradisi budaya lokal dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan teologi kontekstual, khususnya dalam memahami makna kehidupan manusia, kematian, dan harapan akan kehidupan setelah kematian.
Copyrights © 2026