Perkembangan anime sebagai media global menunjukkan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi budaya yang merepresentasikan nilai dan identitas suatu masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kearifan lokal Jepang direpresentasikan dalam film Demon Slayer melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivis, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi mendalam terhadap elemen visual dan naratif film serta studi literatur. Analisis dilakukan melalui identifikasi tanda, klasifikasi ikon, indeks, dan simbol, serta interpretasi makna budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Jepang seperti gaman, omoiyari, dan harmoni sosial direpresentasikan secara implisit melalui sinematografi, kostum, dialog, dan alur cerita. Ikon terlihat pada latar dan visual budaya, indeks pada hubungan sebab-akibat dalam narasi, dan simbol pada nilai sosial serta motif visual. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa budaya Jepang dalam film Demon Slayer direpresentasikan melalui tanda-tanda semiotik dalam bentuk ikon, terutama terkait dengan latar tempat, kostum tradisional, dan elemen visual yang menyerupai realitas budaya Jepang. Indeks terutama berkaitan dengan hubungan sebab-akibat dalam alur cerita yang mencerminkan nilai perjuangan, tanggung jawab, dan pengorbanan. Sementara itu, simbol berkaitan dengan penggunaan bahasa, motif visual, serta nilai-nilai sosial yang merepresentasikan identitas, etika, dan kearifan lokal Jepang.
Copyrights © 2026