Jakarta menghadapi banjir kronis yang berdampak pada masyarakat bantaran sungai, banyak di antaranya menolak relokasi karena keterikatan tempat dan identitas budaya. Penelitian ini mengkaji praktik pemberdayaan berbasis kearifan lokal untuk mitigasi banjir oleh Komunitas Padepokan Ciliwung Condet (PCC) di Jakarta Timur melalui pendekatan kualitatf studi kasus dan teori community development Jim Ife. Temuan menunjukkan tiga hal utama. Pertama, bentuk kearifan lokal Betawi yang dihidupkan kembali untuk mitigasi banjir meliputi filosofi kembar aer, praktik ekologis pangkalan, kesenian lenong sebagai media edukasi kebencanaan, serta mata pencaharian dari produk dodol dan emping. Kedua, proses pemberdayaan PCC mencerminkan prinsip change from below degan menghargai pengetahuan dan budaya lokal, peningkatan kesadaran dialogis, serta mengutamakan proses. Ketiga, dampak pemberdayaan terhadap peningkatan kapasitas mitigasi banjir terlihat pada dimensi personal (kesadaran dan keterampilan kesiapsiagaan), relasional (penguatan gotong royong untuk aksi kolektif mitigasi), dan struktural (jejaring multi-pihak untuk pengurangan risiko bencana). Kasus Malalo, Sumatera Barat, yang mencapai nol korban jiwa dalam banjir bandang 2025 melalui sistem ronda sungai adat Tuo Banda menunjukkan efektivitas pengetahuan lokal. Kajian ini merekomendasikan pergeseran kebijakan mitigasi bencana dari pendekatan teknokratis menuju pengakua kearifan lokal dan strategi mitigasi berbasis komunitas.
Copyrights © 2026