Proses Islamisasi di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, tidak terlepas dari peran sentral Walisongo pada abad ke-15 hingga ke-16. Keberhasilan mereka tidak semata-mata karena faktor politik atau ekonomi, melainkan karena pendekatan kultural yang bijaksana, yang kemudian melahirkan peradaban Islam Nusantara yang khas. Artikel ini mengkaji bagaimana Walisongo mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal yang telah mengakar kuat, serta karakteristik budaya yang dihasilkan dari akulturasi tersebut. Melalui metode penelitian kepustakaan (library research), artikel ini menganalisis berbagai literatur tentang strategi dakwah, akulturasi, dan peninggalan Walisongo. Hasil kajian menunjukkan bahwa Walisongo menggunakan strategi dakwah yang akomodatif, meliputi bidang kesenian (wayang, gamelan), arsitektur (Masjid Demak), sastra (tembang suluk), dan tradisi ritual (slametan, sekaten). Karakteristik budaya yang terbentuk adalah Islam yang toleran, sinkretis, namun tetap berpegang pada nilai-nilai tauhid. Kesimpulannya, peradaban Islam era Walisongo merupakan hasil dialektika antara universalitas Islam dan kearifan lokal, yang menjadi fondasi identitas keislaman Indonesia yang moderat hingga saat ini.
Copyrights © 2026