Penelitian ini membahas representasi identitas kolektif Sundanese dalam pertunjukan wayang golek Giri Harja di Cimaung, Kabupaten Bandung. Penelitian ini dilakukan karena wayang golek tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, pesan moral, dan identitas Sundanese. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan perspektif interaksionisme simbolik Herbert Blumer untuk memahami bagaimana makna wayang golek terbentuk melalui interaksi sosial antara dalang dan penonton. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan masyarakat setempat, penonton, pemain gamelan, dan asisten pertunjukan (cantrik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wayang golek masih diinterpretasikan sebagai representasi identitas budaya Sundanese melalui penggunaan bahasa Sundanese, humor yang khas, karakter wayang, musik gamelan, dan nilai-nilai sosial yang disampaikan dalam pertunjukan. Namun, wayang golek juga menghadapi tantangan seperti menurunnya minat di kalangan generasi muda, perubahan pola hiburan, dan biaya pertunjukan yang tinggi. Oleh karena itu, wayang golek terus memainkan peran penting sebagai media pelestarian budaya dan transmisi identitas kolektif Sundanese.
Copyrights © 2026