cover
Contact Name
Fitrahayunitisna
Contact Email
fitrahayunitisna@ub.ac.id
Phone
+6285777556060
Journal Mail Official
kusalawafibub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran, Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Kusa Lawa
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 28278194     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.kusalawa
Jurnal ini mewadahi gagasan ilmiah dan publikasi hasil penelitian dari para ilmuwan, akademisi, maupun peneliti. Untuk itu jurnal ini terbuka dan menerima artikel ilmiah yang berupa hasil penelitian, gagasan ilmiah, dan penciptaan seni.
Articles 66 Documents
PENGARUH BUDAYA KULINER CINA DAN BELANDA TERHADAP KULINER INDONESIA Rizki - Zamhari
Kusa Lawa Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.01.08

Abstract

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan rempah-rempah yang kemudian banyak menarik perhatian bagi kalangan bangsa bangsa lainya. Oleh karena kekayaanya tersebut Bangsa Indonesia sendiri benyak kedatangan bangsa-bangsa lain yang dari kedatanganya tersebut memiliki pengaruh dalam bidang kuliner Indonesia yang disebabkan akan adanya akulturasi dan asimilasi budaya. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur. Diketahui pengaruh kebudayaan yang dibawa oleh orang Cina dan Belanda memiliki pengaruh yang besar dalam bidang kekulineran di Indonesia yang hingga sekarang masih bertahan dimana kebudayaan dan kuliner dari luar Indonesia tersebut terakulturasikan menjadi kebudayaan baru yang kemudian menciptakan kuliner yang khas dan unik.
INSPIRASI BERUJUNG IRI HATI: JELAJAH KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT KAJOETANGAN SEBAGAI PENDUDUK DESA WISATA Dewi Ariyanti Soffi; Fahrun Nisa’; Jamilatul Fitriyah; Tita Aulia
Kusa Lawa Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.02.03

Abstract

Inspirasi Berujung Iri Hati:  Jelajah Kehidupan Sosial Masyarakat Kajoetangan Sebagai Penduduk Desa Wisata. Kawasan Kajoetangan Kota Malang berada di jalan Basuki Rahmat yang menjadi bagian dari tiga kelurahan yakni Kelurahan Kauman, Kelurahan Klojen dan Kelurahan Oro-oro Dowo dalam lingkup kecamatan Klojen, Kota Malang. Gagasan “Kampung Heritage” muncul dan di pelopori oleh pemerintah sebagai upaya konservasi peninggalan bangunan dari masa kolonial. Selain itu, gagasan kampung heritage berupaya untuk membangun serta menghidupkan kembali terkait “memori kolektif” bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang merasa punya keterkaitan emosi dengan hingar-bingar masa lalu Kajoetangan. gagasan “Kampung Heritage” yang menggandeng tiga Rukun Warga (RW) yaitu RW 01, 09, dan 10 tidak semerta-merta mampu membangkitkan kesadaran wisata. Perbedaan pola pikir hingga kondisi ekonomi diisukan sebagai dalang dari ketiadaan langkah kaki masyarakat yang selaras dalam membangun kampung heritage melalui misi yang sama. Penelitian ini membahas mengenai upaya masyarakat lokal dalam membangun ingatan kolektif tentang kawasan Kajoetangan tempo doeloe melahirkan iri hati bagi sebagian masyarakatnya. Hasil penelitian menunjukkan Membangun kesadaran sejarah maupun wisata ditengah masyarakat dengan pola pikir yang beragam merupakan tantangan besar bagi penggiat sejarah Kampung Heritage Kajoetangan. Menjadi minoritas (secara tersirat) yang mendukung penuh pengadaan kampung heritage nyatanya menciptakan keresahan dan kegelisahan akan masa depan ”Kampung Heritage”.
KAJIAN BUNGA MAWAR SEBAGAI SIMBOL BUDAYA LOKAL DAN AGAMA MELALUI PANDANGAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Aziz Al Bilad
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.02

Abstract

Until now, the rose has various meanings, namely as a symbol of love, beauty, respect, and joy and sorrow. There are lots of red roses that are very popular with many people. Like the flame on a red rose which is used as a symbol of affection. But apart from being a rose that has been applied above, flowers are also widely used for cultural and religious purposes. For example in culture, namely the Javanese custom which uses roses as a wedding ceremony, and roses as a death ceremony. In the formulation of the research problem, what is the meaning of denotation, connotation, and myth in roses as symbols of local culture and religion through Roland Barthes' semiotic method. The purpose of this research is to describe and examine the meaning of the rose symbol through denotation, connotation, and myth. From the research results, it can be seen that the denotation of roses or rose petals and the connotation of red roses is a symbol of affection.
PERTENTANGAN PEMIKIRAN ANTARA GERAKAN FEMINISME DAN ANTI-FEMINISME DI INDONESIA Meywa Ajeng Arinahaten
Kusa Lawa Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.02.08

Abstract

Gerakan feminisme sudah cukup luas menyebar di berbagai negara dan benua untuk menuntut persamaan dan hak kaum perempuan. Begitu juga seiring dengan berjalannya waktu aliran feminisme mulai beragam dengan berbagai tuntutannya. Akan tetapi ada golongan yang menolak keberadaannya karena bertentangan dengan ajaran agama yakni gerakan anti-feminisme yang baru-baru ini berdiri atas reaksinya terhadap kehadiran feminisme. Penolakan mereka bukan tanpa sebab melainkan didasari atas ketidaksetujuan akan ide feminisme yang dianggapnya kontroversial dan menyalahi aturan kodrat laki-laki dan perempuan. Disisi lain aliran feminisme pun ikut berdiri untuk melakukan penolakan terhadap aturan dan institusi agama sehingga menambah tendensi di antara keduanya. Penelitian ini akan melihat bagaimana perbedaan perspektif dan latar belakang gerakan dengan menggunakan Cross Cultural Comparison untuk membandingkan kedua gerakan tersebut melalui studi literatur. Tujuannya adalah untuk menelaah bagaimana terjadi gesekan antara kedua kubu yang saling berseberangan dalam melihat pergerakan perempuan.
Islam Jawa Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Grafis Iqbal Misbahuddin M
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.07

Abstract

Java as one of the largest landmasses in Indonesia has many unsolved mysteries until now because it is considered as mystical and forbidden to touch for the inexperienced. For a long time, Java made a history that many people can still feel, from the history of power, mysticism, culture to religious affairs. In the beginning, Java itself already had a belief in the strongest entity called God and already had its own thoughts on how God exists and is felt. Some people recognize that belief as animism and dynamism, which believes that certain spirits or objects have a power that is considered their God, others consider Java to have a more complex religion or belief which is often called Kejawen, Kapitaian, Sundanese Wiwitan, and so on. If drawn straight with the beliefs recognized today it is believed by some to have the same as the teachings of Islam. Why can it be called similar to Islamic teachings, because there are some beliefs that believe that there is only one God who must be worshiped for them in a predetermined manner. From this restlessness, the writer wants to dissect these problems into graphic art works.
MENEMUKAN CIRI KHAS GEREJA JPCC DALAM MELAYANI JEMAAT REMAJA: Studi Kasus Gereja JPCC Mall Kota Kasablanka, Jakarta Boas Imanuel Evelinus
Kusa Lawa Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.01.06

Abstract

Gereja kontemporer hadir dengan budaya pop yang begitu terasa dimulai dari konsep ruangan hingga konsep ibadah. Pembentukan atmosfir yang dibangun sedemikian rupa agar jemaat bisa merasa nyaman berada di dalam ruangan ibadah. Pelaksanaan ibadah memiliki beberapa tahapan yang selalu digunakan setiap ibadahnya. Tahapan-tahapan ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa nyaman dan aman untuk jemaat. Ciri khas dari JPCC dalam melayani jemaat remaja adalah diadakannya Small Group yang merupakan nama lain dari KomSel. Selain Small Group, penyampaian sermon (kotbah) yang singkat dan penyampaian topik yang relevan dengan kehidupan remaja juga merupakan hal yang diterapkan dalam ibadah di JPCC Youth. Kotbah yang dilakukan singkat ini bertujuan untuk jemaat bisa berdiskusi di dalam Small Group masing-masing. Small group ini diadakan sebagai pendukung dari kotbah yang diberikan dan juga berfungsi sebagai sarana untuk berdiskusi antar anggota Small Group. Para remaja ini juga dilayani oleh satu sampai dua orang Small Group Leader atau yang disebut dengan mentor. Mentor juga mendorong remaja agar bisa tergerak hatinya untuk melayani sesama. Pada akhirnya remaja-remaja tertentu juga ikut terlibat dalam pelayanan di JPCC. Inilah yang menjadi tujuan utama sekaligus kesuksesan JPCC Youth, dimana remaja bisa melayani sesama dalam kehidupan sehari-hari.
INTERPRETASI EKSOTISME PEREMPUAN DALAM PENCIPTAAN SENI GRAFIS Happy Wahyu Firdaus
Kusa Lawa Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.02.04

Abstract

Perempuan merupakan makhluk paling indah, menarik dan istimewa ciptaan Tuhan. Perempuan memiliki sex appeal atau daya tarik, karena dalam pandangan laki-laki mereka adalah sesuatu yang berharga untuk dimiliki. Keseharian penulis yang selalu dekat dengan sosok Ibu, saudara perempuan, teman-teman dekat yang didominasi perempuan telah berdampak, dan memantik sesuatu. Menyadari posisi yang demikian, rasa kagum, apresiasi yang tinggi sekaligus bercampur syukur, memunculkan kesadaran untuk menjadikannya subjek matter dalam penciptaan karya seni. Perempuan menjadi tokoh utama dalam proyek ini. Penulis meinterpretasi paradigma, posisi, peran, dan daya magis perempuan melalui perspektif eksotisme mewujud karya-karya, yakni karya seni grafis. Metode yang digunakan untuk memanifestasikan gagasan atas interpretasi eksotisme perempuan adalah Pengamatan, Editing Visual, Pembentukan, Evaluasi dan Finishing. Hasil akhir dalam tahapan tersebut penulis wujudkan dalam tujuh karya seni grafis cetak tinggi scrapper menggunakan teknik hardboardcut and handcoloring dengan judul antara lain; Menjadi cantik itu siksaan, Black Hole, Karena itu aku mencintaimu, Mengoleksi memori, Masalah Perempuan, Konflik Vertikal & Horisontal. Dalam karya- karya tersebut secara keseluruhan penulis menggunakan varnish doff sebagai nilai tambah secara artistik dalam sebuah karya, dipilihnya varnish doff dengan tujuan meredam tinta offset yang memiliki kencerungan lebih mengkilat. 
KAJIAN BUDAYA PETUAH JAWA “SAPA SING NANDHUR BAKALE NGUNDHUH” DALAM RUANG LINGKUP HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK Abida Bahriatussifa'
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.03

Abstract

Kajian Budaya Petuah Jawa “Sapa Sing Nandhur Bakale Ngundhuh” dalam Ruang Lingkup Hubungan Orang Tua dan Anak. Penelitian ini memiliki tujuan mengedukasi masyarakat mengenai makna mendalam yang dapat diambil dari petuah Jawa “Sapa sing nandhur bakale ngundhuh”, serta megambil pelajaran dari kaitan petuah Jawa tersebut dalam ruang lingkup orang tua dan anak. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.  Metode wawancara dilakukan untuk mencari tahu tentang presepsi masyarakat lokal pada umumya terhadap makna petuah Jawa “Sapa sing nandhur bakale ngundhuh” serta perwujudannya dalam kehidupan sehari-sehari yang biasa ditemui. Metode observasi dilakukan untuk memperkuat opini penulis maupun masyarakat atas keterkaitan petuah Jawa yang diteliti dengan hubungan orang tua dan anak. Sedangkan metode dokumentasi dilakukan untuk mengetahui seperti apa sudut pandang penelitian terdahulu yang membahas objek yang sama dengan penelitian ini. Hasil pengumpulan data nantinya akan dianalisis secara naratif kualitatif. Pengambilan data dilakukan di Desa Mojotengah, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.  
GUDUK KARYA SING NGURIPI AWAKMU: MELACAK IDENTITAS FREELANCER MUDA KREATIF DI KOTA MALANG Alifia Nurfajri Henia; Hipolitus Kristoforus Kewuel
Kusa Lawa Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2022.002.01.01

Abstract

Begitu banyak macam pekerjaan yang dipilih sebagai aktivitas di kehidupan sehari-hari. Anggapan bekerja acap kali hanya berputar untuk menerima upah sebagai hubungan timbal baliknya. Akan tetapi bagi kelompok pekerja kreatif freelancer melihat dari pandangan lain bahwa terdapat ruang untuk menyelam lebih dalam mengenai makna dari sebuah pekerjaan. Penilaian tampilan seorang freelancer tentu tidak bisa hanya dilakukan dengan kasat mata, yakni perlunya pengenalan identitas atas kesadaran dan pilihan pribadi untuk hidup beriringan dengan mode kerja freelancer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan observasi-partisipasi dengan prinsip-prinsip netnografi, wawancara mendalam, dokumentasi dan kajian literatur. Penulis menggunakan teori Antropologi Kerja dari Sarah Wallman dan teori Self dari Ward Goodenough sebagai dasar analisis penelitian ini. Penelitian ini menyoroti proses bagaimana kreatif freelancer di Kota Malang membangun identitasnya sebagai individu maupun hidup berkolektif dengan sesama. Dari kota Malang, para kreatif freelancer mendeskripsikan sebuah pengalaman dalam meniti rekam jejak identitas di industri kreatif bagi siapapun yang tertarik mempertajam kemampuannya. 
EKSISTENSI TATO MENTAWAI SEBAGAI BENTUK RESISTENSI KEBUDAYAAN SOSIAL DI KEPULAUAN SUMATERA BARAT Socha Indra Mulia
Kusa Lawa Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.kusalawa.2021.001.01.08

Abstract

Eksistensi Tato Mentawai sebagai Bentuk Resistensi Kebudayaan Sosial di Kepulauan Sumatera Barat. Eksistensi budaya tato Mentawai di Sumatera Barat pada zaman sekarang yang semakin modern menjadi pertanyaan sebagian kalangan. Kebudayaan tato yang kuat akan asal usulnya dibudayakan secara turun temurun apakah masih diteruskan oleh anak muda zaman sekarang ini? Proses pentatoan yang masih menggunakan teknik, alat, dan bahan yang masih tradisional mungkin menjadi salah satu alasan anak muda sekarang. Kaum anak muda lebih tertarik dengan motif dan teknik tato yang lebih modern, disisi lain sejak dikeluarkan melalui SK No.167/PROMOSI/1954 yang memerintahkan suku Mentawai meninggalkan tradisi tato dan kepercayaan mereka, Arat Sabulungan. Masyarakat Mentawai mulai meninggalkan kebudayaan tersebut dan membangun kehidupan mengikutin zamannya. Namun kebudayaan tato itu sendiri telah menjadi identitas Mentawai yang telah banyak dikenal oleh rakyat Indonesia melalui asal usul, teknik, motif, alat, dan bahan yang digunakan dalam proses tersebut memiliki keunikan tersendiri bagi masyarakat Mentawai. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari informasi mengenai tato Mentawai dari asal-usul hingga keberadaan tato saat ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara studi literatur. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara utuh. Hasil yang kemungkinan ditemukan adalah penerimaan diri, merasa setara dengan orang lain, konsep diri yang dibangun, dan sisa-sisa keberadaan tato yang tidak lagi dibudayakan.