Festival Tabut di Bengkulu mengalami transformasi makna yang signifikan, dari ritual sakral peringatan wafatnya Husein bin Ali menjadi perayaan budaya dan pariwisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis pergeseran fungsi tersebut beserta faktor yang memengaruhinya. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi ini didorong oleh kebijakan pemerintah dalam menjadikan Tabut sebagai agenda pariwisata nasional dan identitas daerah. Proses desakralisasi dan komodifikasi budaya mengubah fokus kegiatan yang semula bersifat esoteris-religius menjadi tontonan publik yang berorientasi ekonomi. Meskipun aspek ritual inti tetap dijaga oleh Kerukunan Keluarga Tabut (KKT), dominasi hiburan dan festival dalam perayaan ini cenderung mengaburkan nilai spiritual aslinya. Simpulannya, transformasi ini merupakan bentuk adaptasi tradisi terhadap modernitas yang memberikan dampak ekonomi positif, namun di sisi lain menantang kelestarian makna filosofis mendalam dari tradisi tersebut.
Copyrights © 2026