Perkembangan media sosial yang pesat telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara mendasar dan melahirkan fenomena over sharing—kecenderungan pembagian informasi personal secara berlebihan di ruang publik digital tanpa pertimbangan etis yang memadai. Artikel ini mengkaji fenomena over sharing sebagai tantangan etika komunikasi kontemporer dan menawarkan rekonstruksi etika komunikasi profetik berbasis hadis man kāna yuʼminu billāh wa al-yawm al-ākhir falyaqul khayran aw liyaṣmut sebagai kerangka normatif dalam membangun budaya komunikasi digital yang bertanggung jawab. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-tematik (al-Dirāsah al-Mawḏūʼiyyah), studi ini menganalisis hadis tersebut dalam kaitannya dengan fenomena over sharing dalam perspektif al-Ḥaḏārah wa al-Tsaqāfah. Temuan studi menunjukkan empat prinsip etika komunikasi profetik yang relevan: (1) selektivitas informasi (ḏabṭ al-lisān); (2) perlindungan ruang privat (ḥifẓ al-khuṣūṣiyyah); (3) tanggung jawab sosial (al-masʼūlīyyāh al-ijtimāʼiyyah); dan (4) orientasi kemaslahatan (taḥqīq al-maṣlaḥah). Keempat prinsip ini menunjukkan bahwa etika komunikasi profetik bukan sekadar panduan moral individual, tetapi merupakan kerangka peradaban dalam membangun budaya komunikasi digital yang etis, selektif, dan bertanggung jawab.
Copyrights © 2026