Artikel ini mengkaji resonansi QS. Ar-Ra’du: 17 dan hubungannya dengan sunnatullah melalui pendekatan tafsir adabi ijtima’i, dengan metode deskriptif-analitik komparatif dari perspektif mufassir klasik (al-Thabari, Ibn Katsir) dan kontemporer (Muhammad Abduh, Rashid Ridha, Sayyid Quthb, Hamka, M. Quraish Shihab). Ayat ini menggunakan tashbih murakkab (perumpamaan berlapis) tentang air, buih, dan logam sebagai gambaran sunnatullah: segala yang sia-sia dan tidak bersubstansi (la’ibin) pasti musnah, melainkan al-haqq yaitu yang berdasarkan kebenaran dan memberi manfaat nyata bagi manusialah yang akan tetap bertahan di muka bumi. Hasil kajian menegaskan bahwa sunnatullah dalam ayat ini bersifat universal, immutable, dan meresap ke seluruh dimensi kehidupan. Implikasinya dalam Pendidikan Islam (PI) kontemporer mendorong peserta didik lebih aktif, kreatif, dan inovatif dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Ilahi membangun karakter yang substansif, berdaya saing, dan bermakna bagi peradaban.
Copyrights © 2026