Pemanfaatan lahan bantaran rel kereta api sebagai area pertanian urban ( urban farming ) masih marak dilakukan oleh masyarakat di kawasan padat penduduk seperti Wonokromo, Surabaya. Praktik ini menimbulkan risiko kesehatan serius mengingat emisi bahan bakar lokomotif dan gesekan roda kereta menghasilkan residu logam berat Timbal (Pb) yang dapat terakumulasi pada jaringan tanaman sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar cemaran logam berat Timbal pada tanaman kangkung (Ipomoea aquatica) yang ditanam di sepanjang jalur kereta api Wonokromo berdasarkan variasi jarak tanam. Metode penelitian menggunakan desain survei deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive pada tiga titik jarak (5 meter, 10 meter, dan 15 meter) dari bibir rel, yang kemudian diuji menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata- rata kandungan Timbal pada jarak 5 meter mencapai 1,25 mg/kg, yang melampaui batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan olahan sesuai standar SNI 7387:2009 (0,5 mg/ kg). Disimpulkan bahwa kangkung yang tumbuh di area bantaran rel tidak aman untuk dikonsumsi karena bersifat hiperakumulator terhadap polutan udara, sehingga diperlukan regulasi zonasi tanam yang ketat.
Copyrights © 2026