Penelitian ini menganalisis praktik komunikasi budaya dalam tradisi basiacuang pada upacara perkawinan Melayu Kampar Riau melalui pendekatan etnografi komunikasi. Basiacuang dipahami sebagai praktik komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai media penyampaian pesan adat, reproduksi nilai budaya, identitas Melayu, dan kohesi sosial masyarakat Kampar. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka yang melibatkan tokoh adat, pembawa basiacuang, ninik mamak, dan masyarakat Melayu Kampar. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta kerangka SPEAKING dari Dell Hymes. Hasilnya menunjukkan bahwa basiacuang memiliki struktur khas seperti pantun, pepatah, metafora, ritme bahasa, dan ungkapan simbolik Melayu, diatur norma interaksi adat yang menempatkan kesantunan, penghormatan, dan keharmonian sebagai prinsip utama komunikasi budaya Melayu Kampar. Selain sebagai media ritual, basiacuang juga sebagai mekanisme reproduksi identitas budaya Melayu Kampar melalui pewarisan nilai moral, solidaritas sosial, penghormatan terhadap orang tua, dan legitimasi adat. Modernisasi dan media digital mulai memengaruhi keberlangsungan praktik basiacuang, terutama penurunan pemahaman bahasa adat dan tradisi lisan Melayu generasi muda. Masyarakat adat tetap berupaya melestarikan basiacuang melalui pelestarian budaya dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan studi etnografi komunikasi dan pelestarian budaya Melayu Riau, khususnya praktik komunikasi tradisional masyarakat Melayu Kampar.
Copyrights © 2026