Penelitian ini mengkaji pemerolehan morfologi bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama oleh Ngaisia, seorang anak berusia tiga tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk morfologis yang telah diperoleh serta urutan pemerolehannya berdasarkan frekuensi kemunculan dan waktu produksi tuturan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif sinkronik-longitudinal selama satu tahun, data dikumpulkan secara naturalistik melalui observasi partisipatif, catatan lapangan, dan rekaman dalam lima tahap, mulai usia 3;1 hingga 3;12. Analisis menggunakan kriteria keterpahaman, yaitu penggunaan satuan gramatikal yang tepat sesuai konteks serta hubungan yang konsisten antara bentuk dan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ngaisia telah memperoleh tiga aspek morfologi, yaitu afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Dari 377 tuturan, 239 mengandung afiksasi, 98 reduplikasi, dan 40 pemajemukan. Berdasarkan frekuensi, afiksasi merupakan aspek yang paling dominan, diikuti reduplikasi dan pemajemukan. Dalam afiksasi, prefiks muncul paling sering, sedangkan infiks tidak ditemukan; dalam reduplikasi, reduplikasi penuh paling dominan; dan dalam pemajemukan, kategori Nomina+Nomina paling sering muncul. Secara kronologis, afiksasi diperoleh paling awal, khususnya sufiks, diikuti beberapa prefiks, simulfiks, afiks gabungan, reduplikasi penuh, dan pemajemukan sederhana. Temuan ini menegaskan bahwa produktivitas tuturan mencerminkan penguasaan gramatikal anak serta menyoroti pentingnya dukungan lingkungan.
Copyrights © 2026