Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari generasi muda di Indonesia. Platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Facebook memungkinkan komunikasi yang cepat dan lintas batas, tetapi sekaligus memicu pergeseran etika komunikasi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis latar belakang pergeseran nilai etika komunikasi tradisional akibat penggunaan media sosial yang intensif, merumuskan permasalahan utama, menjelaskan metode analisis yang digunakan, serta menyimpulkan temuan penelitian. Latar belakang masalah mencakup transformasi dari etika komunikasi tatap muka yang berlandaskan sopan santun, empati, gotong royong, rasa hormat, dan nilai-nilai Pancasila menuju pola komunikasi digital yang serba cepat, anonim, emosional tanpa filter, dan sering bersifat provokatif. Rumusan masalah penelitian meliputi: (1) Bagaimana bentuk-bentuk pergeseran etika komunikasi pada generasi muda akibat media sosial? (2) Faktor-faktor apa yang mempercepat pergeseran tersebut? (3) Strategi apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif dan memperkuat dampak positif? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan analisis konten tematik terhadap delapan belas sumber ilmiah (60% artikel jurnal dan 40% buku). Hasil penelitian menunjukkan dampak ganda media sosial. Dampak positif mencakup peningkatan akses informasi dan partisipasi sosial, sedangkan dampak negatif yang lebih dominan meliputi penurunan empati, maraknya cyberbullying, hate speech, degradasi bahasa, pengabaian privasi, serta berkurangnya kemampuan interaksi tatap muka. Generasi Z dan milenial sebagai digital natives sangat rentan terhadap pengaruh algoritma, anonimitas, dan rendahnya literasi digital. Penelitian ini menyimpulkan perlunya penguatan pendidikan literasi digital secara terintegrasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat agar generasi muda dapat bermedia sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Copyrights © 2026