Penelitian ini membahas kesenjangan bahasa yang dialami mahasiswa non-Jawa dalam memahami kitab kuning berbahasa Pegon di Ma’had Al-Jami’ah Hasyim Asy’ari Diwek Jombang. Latar belakang penelitian berangkat dari realitas bahwa sebagian besar mahasiswa non-Jawa tidak memiliki kompetensi bahasa Jawa maupun kemampuan membaca aksara Pegon, sehingga memunculkan hambatan akademik dan sosial dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk kesulitan linguistik, kultural, dan komunikasi yang dialami mahasiswa non-Jawa, serta menganalisis strategi pembelajaran yang dapat mengurangi kesenjangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memperoleh data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama terletak pada ketidakmampuan membaca aksara Pegon, minimnya kosakata bahasa Jawa, serta metode pengajaran yang masih bertumpu pada tradisi pesantren. Selain itu, mahasiswa non-Jawa mengalami kendala dalam berinteraksi dengan pengajar dan teman sebaya yang menggunakan bahasa Jawa dalam proses belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenjangan bahasa berdampak nyata pada pemahaman kitab dan partisipasi akademik mahasiswa non-Jawa, sehingga diperlukan strategi pembelajaran inklusif seperti penggunaan transliterasi Latin, kelas pendahuluan bahasa Jawa dasar, serta pelatihan membaca Pegon secara bertahap. This study examines the linguistic gap experienced by non-Javanese students in understanding Pegon-language Islamic classical texts (kitab kuning) at Ma’had Al-Jami’ah Hasyim Asy’ari Diwek Jombang. The research is motivated by the fact that most non-Javanese students lack proficiency in both the Javanese language and Pegon script, creating academic and social challenges in the learning process. The study aims to identify the linguistic, cultural, and communicative obstacles faced by non-Javanese students and to explore instructional strategies that can minimize these learning barriers. Using a qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and documentation. Findings show that the primary difficulties include an inability to read Pegon script, limited Javanese vocabulary, and traditional teaching methods that rely heavily on oral explanation in Javanese. Non-Javanese students also struggle to engage in academic interactions due to language differences with instructors and Javanese-speaking peers. The study concludes that the linguistic gap significantly affects comprehension and learning participation among non-Javanese students. Therefore, inclusive instructional strategies—such as using Latin transliteration, introductory Javanese language classes, and gradual Pegon reading training—are necessary to support equitable learning.
Copyrights © 2026