Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen sosiologi pendidikan terkait disparitas pemanfaatan sumber daya digital antara siswa mukim (santri) dan non-mukim di SMK Al-Ishlah Compreng-Subang. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus komparatif, data dibedah melalui lensa modal budaya Pierre Bourdieu yang diintegrasikan dengan manajemen operasional sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mukim mengalami "kemiskinan waktu operasional" akibat konflik penjadwalan struktural antara pelatihan vokasi dan aktivitas keagamaan wajib, yang menghambat internalisasi habitus digital. Hambatan sistemik ditemukan pada sub-optimalnya rasio perangkat (1:3) serta beban administratif ganda tenaga pendidik yang memperburuk ketimpangan pendidikan. Studi ini menyimpulkan bahwa sinkronisasi kebijakan institusional dan penciptaan "ruang digital yang dinegosiasikan" melalui perpanjangan jam laboratorium merupakan intervensi manajemen mutlak untuk mengonversi modal spiritual menjadi kompetensi digital teknis.
Copyrights © 2026