Penelitian ini mengkonseptualisasi kualitas pengungkapan stakeholder dalam laporan terintegrasi di Afrika Selatan dan Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa praktik di Afrika lebih unggul karena menggunakan pendekatan analitis dan terukur dalam menilai kualitas hubungan stakeholder, serta mengaitkan kebutuhan stakeholder dengan isu material, risiko, dan strategi perusahaan. Sebaliknya, pengungkapan di Indonesia masih bersifat deskriptif dan berbasis kepatuhan, tanpa evaluasi kualitas hubungan maupun integrasi strategis. Oleh karena itu, diperlukan transformasi menuju pendekatan berbasis integrated thinking melalui penguatan pengukuran, analisis, dan keterkaitan informasi agar meningkatkan kualitas laporan dan mendukung penciptaan nilai jangka panjang
Copyrights © 2026