Fenomena self-love dalam budaya populer saat ini sering dipandang sebagai bentuk pemberdayaan diri dan upaya menjaga kesehatan mental. Namun beberapa penerapannya terkadang berlebihan sehingga menimbulkan sikap permisivisme, individualisme, dan egoisme dan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritual Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis konsep self-love dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsīr mauḍhu’i menggunakan sumber primer tafsir al-Azhar karya Buya HAMKA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data penelitian ini yaitu menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep self-love seperti karāmah, ‘izzah, tazkiyatun nafs, serta penerimaan diri dan kesadaran tanggung jawab. Sebanyak 6 ayat Al-Qur’an dipilih berdasarkan empat konsep utama tersebut di antaranya QS. Al-Isra [17]:70, QS. Al-Munafiqun [63]:8, QS. Al-Fathir [35]: 10, QS. Asy-Syams [91]:9-10, QS. Al-Ghafir [40]:64. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa HAMKA menjelaskan konsep self-love Islami dengan berlandaskan spiritual dan tanggung jawab moral. Konsep cinta diri dalam Al-Qur’an menurut HAMKA adalah usaha mengenali, menghargai, dan memperbaiki diri disertai ketakwaan kepada Allah. Konsep self-love dalam perspektif Al-Qur’an sebagaimana ditafsirkan HAMKA merupakan cinta diri yang seimbang dengan menghindarkan manusia dari sikap permisivisme, individualisme, dan egoisme serta menumbuhkan kesadaran diri untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah.
Copyrights © 2026