Arsyad Sobby Kesuma
UIN Raden Intan Lampung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RE-INTERPRETASI PEMIKIRAN UKHUWWAH SAYYID QUTHB Arsyad Sobby Kesuma
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 42, No 1 (2018)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v42i1.536

Abstract

Abstrak: Penelitian ini memotret kembali karakteristik pemikiran Sayyid Quthb yang diklaim sebagai seorang tokoh fundamentalis, radikal dan ekstrimis. Akan tetapi berdasarkan penelitian dengan mengambil sampel pemikirannya tentang konsep ukhuwah, klaim di atas tidaklah benar seluruhnya. Ketika mengkaji pemikirannya tentang ukhuwwah, Sayyid Quthb adalah seorang tokoh pemikir Islam yang toleran dan cinta perdamaian. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pemikirannya yang dianggap cukup terbuka. Pertama, menurutnya toleransi adalah unsur yang paling penting bagi terwujudnya perdamaian. Kedua, seorang mukmin apabila berpaling mereka melakukannya dengan beradab, penuh wibawa, dan penuh harga diri. Ketiga, kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia yang karena iktikadnya itulah ia layak disebut manusia. Keempat, masalah akidah, sebagaimana dibawa oleh Islam, adalah masalah kerelaan hati setelah mendapatkan keterangan dan penjelasan, bukan pemaksaan dan tekanan. Kelima, setiap orang mukmin adalah bersaudara apapun kelompok, manhâj, atau alirannya, mereka adalah bersaudara.Abstract: The Reinterpretation of Ukhuwwah Thought of Sayyid Quthb. This research attempts to depict the thoughts of Sayyid Quthb who has always been claimed to be a fundamentalist, radical and extremist. However, based on research by taking samples of his thoughts about the concept of ukhuwah, the above claims are not entirely true. While reviewing his thoughts on ukhuwwah, he is a tolerant Islamic thinker, and a love of peace. This can be seen from some of his thoughts that are considered quite open among them. First, according to him tolerance is the most important element for the realization of peace. Second, a believer when turned away they do it with civilized self-responsibility. Thirdly, freedom of religion is a human right in which creed, one deserves to be called human. Fourth, the problem of faith, as tought in Islam, is a matter of willingness after receiving information and explanation, rather than coercion and pressure. Fifth, every believer is in a bond of brotherhood regardless of their group and mainstreams.Kata Kunci: Sayyid Quthb, fundamentalisme, radikal, ukhuwwah
KONSEP SELF-LOVE DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AL-AZHAR Cucu Samsiyah; Arsyad Sobby Kesuma; Kiki Muhamad Hakiki
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.9995

Abstract

Fenomena self-love dalam budaya populer saat ini sering dipandang sebagai bentuk pemberdayaan diri dan upaya menjaga kesehatan mental. Namun beberapa penerapannya terkadang berlebihan sehingga menimbulkan sikap permisivisme, individualisme, dan egoisme dan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritual Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis konsep self-love dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan tafsīr mauḍhu’i menggunakan sumber primer tafsir al-Azhar karya Buya HAMKA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data penelitian ini yaitu menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep self-love seperti karāmah, ‘izzah, tazkiyatun nafs, serta penerimaan diri dan kesadaran tanggung jawab. Sebanyak 6 ayat Al-Qur’an dipilih berdasarkan empat konsep utama tersebut di antaranya QS. Al-Isra [17]:70, QS. Al-Munafiqun [63]:8, QS. Al-Fathir [35]: 10, QS. Asy-Syams [91]:9-10, QS. Al-Ghafir [40]:64. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa HAMKA menjelaskan konsep self-love Islami dengan berlandaskan spiritual dan tanggung jawab moral. Konsep cinta diri dalam Al-Qur’an menurut HAMKA adalah usaha mengenali, menghargai, dan memperbaiki diri disertai ketakwaan kepada Allah. Konsep self-love dalam perspektif Al-Qur’an sebagaimana ditafsirkan HAMKA merupakan cinta diri yang seimbang dengan menghindarkan manusia dari sikap permisivisme, individualisme, dan egoisme serta menumbuhkan kesadaran diri untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah.