Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan merevitalisasi nilai-nilai Pancasila serta dimensi etika ekokritik dalam cerita tradisional Geguritan Bali Jayaprana Layonsari sebagai materi penguatan karakter peserta didik. Sastra tradisional sering direduksi sebatas kisah romansa tragis, padahal di dalamnya terkandung dialektika moral yang kaya. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan ekokritik sastra dan analisis isi (content analysis), teks Geguritan Jayaprana Layonsari dibedah secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini memuat tiga refleksi kritis: (1) Alam sebagai subjek moral (sasmita) yang merespons ketidakadilan, mencerminkan Sila Pertama dan Kedua; (2) Hutan Teluk Terima sebagai ruang marginalisasi akibat kesewenang-wenangan penguasa yang menegasikan Sila Keempat; dan (3) Hubungan timbal balik antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung) dalam konsep Tri Hita Karana (khususnya palemahan) yang sejalan dengan Sila Kelima. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kisah Jayaprana Layonsari dapat ditransformasikan menjadi media pembelajaran sastra yang emansipatif untuk menumbuhkan kecerdasan ekologis sekaligus kecerdasan kewarganegaraan peserta didik di era modern.
Copyrights © 2026