Di tengah narasi penguatan identitas dan nilai-nilai tradisi, kebudayaan tradisonal (nilai-nilai tradisi) sendiri justru semakin kehilangan grip. Perkembangan teknologi informasi pada era digital mengakibatkan nilai-nilai tradisi tidak lagi dijadikan sebagai landasan dalam berperilaku. Perilaku masyarakat lebih dituntun oleh tren media sosial. Mengakibatkan semakin pudarnya nilai-nilai tradisi pada sosial masyarakat. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna konotasi lirik lagu buka haga, yakni sastra lisan masyarakat Lampung (kias) yang dinyanyikan diiringi oleh gambus Lampung (seni tradisi). Sebagai upaya untuk mengungkapkan pengetahuan dan nilai dari kias pada kesenian gambus Lampung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan etnografi sebagai metode pengumpulan data lapangan. Pengumpulan data terdiri dari observasi partisipan, wawancara, dan studi literatur. Penelitian ini menggunakan kerangka teori semiologi Roland Barthes, yakni menggunakan konsep denotasi dan konotasi dalam analisis data. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa lirik lagu buka haga mengandung pengetahuan dan nilai berupa norma orang Lampung dalam menyampaikan maksud dan tujuan, norma pergaulan bujang gadis Lampung, dan konsep religi orang Lampung. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan sebelumnya, kesenian gambus Lampung tidak dapat sekedar dimaknai sebagai seni hiburan semata. Lebih dari itu, di balik kemasan kesenian gambus Lampung yang bersifat hiburan, kesenian gambus Lampung berisi pengetahuan dan konsep nilai melalui kias. Lebih spesifik, kias pada kesenian gambus Lampung sebagai ekspresi simbolik masyarakat Lampung, berisi pengetahuan yang mengatur perilaku.
Copyrights © 2026