Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh work stress, job burnout, dan leadership terhadap turnover intention pada karyawan sektor retail. Persaingan industri retail yang semakin kompetitif menyebabkan meluaskannya tuntutan kerja dan tekanan psikologis yang berpotensi memajukan keinginan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Penelitian ini mempergunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 50 karyawan aktif berpartisipasi dalam penelitian mempergunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dikerjakan mempergunakan kuesioner terstruktur dengan skala Likert 5 poin. Variabel yang diukur meliputi work stress, job burnout, leadership, dan turnover intention. Analisis data dikerjakan mempergunakan korelasi Pearson dan regresi linear berganda melalui IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menyiratkan bahwa work stress berpengaruh positif signifikan terhadap turnover intention (β = 0.381; p = 0.007), yang menyiratkan bahwa semakin tinggi tingkat stres kerja maka semakin tinggi kemengarahan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Sebaliknya, job burnout (p = 0.865) dan leadership (p = 0.441) tidak menyiratkan pengaruh signifikan terhadap turnover intention. Secara simultan, model regresi menyiratkan hasil signifikan (F = 3.131; p = 0.035) dengan nilai R² sebesar 0.170, yang menyiratkan bahwa variabel independen mampu menjelaskan 17.0% variasi turnover intention. Temuan penelitian ini menyiratkan bahwa stres kerja merupakan prediktor utama turnover intention pada karyawan retail. Penelitian ini menegaskan pentingnya strategi organisasi yang berfokus pada pengelolaan beban kerja dan dukungan psikologis guna menurunkan turnover intention pada sektor retail.
Copyrights © 2026