Perubahan pola hubungan antara siswa dan guru di era modern menunjukkan pergeseran menuju interaksi yang lebih terbuka dan egaliter. Meskipun kondisi ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan komunikatif, hal ini juga berpotensi mengurangi rasa hormat siswa terhadap guru. Masalah ini tercermin dalam perilaku seperti komunikasi yang tidak sopan, kurangnya perhatian selama kegiatan belajar, dan pelanggaran peraturan sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan penurunan rasa hormat siswa terhadap guru dan untuk meneliti peran bimbingan dan konseling dalam mengatasi fenomena ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka. Data dikumpulkan dari berbagai sumber ilmiah, termasuk jurnal, buku, penelitian sebelumnya, dan artikel terkait yang berhubungan dengan hubungan siswa-guru, perkembangan remaja, pendidikan karakter, dan pendekatan bimbingan dan konseling. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang fenomena tersebut. Temuan menunjukkan bahwa penurunan rasa hormat siswa terhadap guru dipengaruhi oleh karakteristik perkembangan remaja, media sosial dan pola komunikasi, lingkungan keluarga, budaya sekolah, dan distorsi kognitif dalam memandang guru sebagai teman sebaya tanpa batasan yang jelas. Dari perspektif bimbingan dan konseling, Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dianggap efektif dalam membantu siswa merekonstruksi pola pikir irasional dan mengembangkan sikap sosial yang lebih adaptif. Kesimpulannya, menjaga keseimbangan antara kedekatan dan batasan dalam hubungan siswa-guru sangat penting untuk mendukung pengembangan karakter dan menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tentang pendidikan berkualitas.
Copyrights © 2026