Perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi pada era modern telah membawa perubahan besar dalam proses menuntut ilmu. Pengetahuan kini dapat diperoleh secara cepat melalui media digital, internet, dan kecerdasan buatan. Namun, kondisi tersebut juga memunculkan budaya belajar instan yang cenderung mengabaikan proses pendalaman ilmu, pembentukan karakter, dan pencarian kebenaran secara berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan merefleksikan hadis-hadis tentang hakikat menuntut ilmu dalam perspektif pendidikan Islam, khususnya dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif melalui pengkajian kitab hadis, buku, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber literatur yang relevan. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif untuk memahami kandungan hadis serta relevansinya dengan realitas pendidikan masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif hadis, menuntut ilmu tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri yang berlangsung sepanjang hayat. Ilmu dipandang memiliki dimensi intelektual, moral, spiritual, dan sosial yang saling berkaitan. Hadis-hadis Nabi saw. juga menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat memiliki kedudukan yang mulia karena dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Akan tetapi, perkembangan budaya belajar pragmatis dan materialistik di era digital menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi ilmu yang lebih menekankan hasil cepat dibandingkan proses pendalaman pemahaman. Oleh sebab itu, refleksi terhadap hadis tentang menuntut ilmu menjadi penting untuk membangun kembali paradigma pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kualitas manusia dan kebermanfaatan sosial.
Copyrights © 2026