Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026

Toward the Development of Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie Teaching Materials: A Needs Analysis on Integrating the Local Culture of North Sumatra

Fitri Tarigan (Universitas Negeri Medan)
Resti Citra Dewi (Universitas Negeri Medan)
Surya Kelana Putra (Universitas Negeri Medan)
Lilis Novianti (Universitas Negeri Medan)



Article Info

Publish Date
02 Jun 2026

Abstract

The rapid growth of international tourism in North Sumatra driven by its designation as one of Indonesia’s Super Priority Tourist Destinations and the recognition of Lake Toba as a UNESCO Global Geopark in 2020 has increased the demand for tourism professionals who can communicate in French and English, particularly with Francophone visitors. However, university courses such as Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie (ATH)  still rely on European-based teaching materials that feel disconnected from students’ local realities, often overlooking the linguistic needs, cultural context, and practical situations they will encounter in North Sumatra, highlighting the urgent need for more locally grounded and relevant instructional resources.In response to this gap, the present study aims to conduct a systematic needs analysis as a foundation for developing Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie  (ATH) instructional materials that are grounded in the local culture of North Sumatra. This study adopted a mixed-methods approach, combining quantitative data from questionnaires with qualitative data obtained through interviews, observations, and document analysis. Data were collected from 100 undergraduate students using a 25-item structured questionnaire, supported by semi-structured interviews and an analysis of ten existing sets of teaching materials. The findings indicate that 80% of students begin the course at the CEFR A1 level, while 83.3% perceive the current materials as irrelevant to their future professional needs. Five key communicative domains emerged as priority areas: guided tour narration (94.2%), hotel reception interactions (91.7%), restaurant service communication (87.5%), complaint handling (79.2%), and promotional writing (72.5%). Furthermore, the document analysis revealed that none of the existing materials include references to Indonesian tourism contexts, with four essential lexical domains entirely missing. Overall, these findings highlight a significant mismatch between the existing ESP materials and the actual needs of learners. At the same time, they provide a clear empirical basis for the development of instructional materials that are culturally relevant and locally grounded, particularly for tourism and hospitality education in North Sumatra.   Pesatnya pertumbuhan pariwisata internasional di Sumatera Utara yang didorong oleh penetapan wilayah ini sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia serta pengakuan Danau Toba sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2020 telah meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga profesional pariwisata yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris, khususnya dalam melayani wisatawan Francophone. Namun demikian, mata kuliah Anglais pour le Tourisme et l’Hôtellerie di perguruan tinggi masih menggunakan bahan ajar berbasis konteks Eropa yang kurang relevan dengan realitas lokal mahasiswa. Bahan ajar tersebut cenderung mengabaikan kebutuhan linguistik, konteks budaya, serta situasi praktis yang akan dihadapi mahasiswa di lingkungan pariwisata Sumatera Utara. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan pengembangan sumber pembelajaran yang lebih kontekstual, relevan, dan berbasis budaya lokal. Sebagai respons terhadap kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebutuhan secara sistematis sebagai landasan dalam pengembangan bahan ajar ATH yang berbasis budaya lokal Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengombinasikan data kuantitatif dari angket dan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen. Data dikumpulkan dari 100 mahasiswa sarjana melalui kuesioner terstruktur yang terdiri atas 25 butir pertanyaan, didukung oleh wawancara semi-terstruktur dan analisis terhadap sepuluh perangkat bahan ajar yang telah digunakan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% mahasiswa memulai perkuliahan pada tingkat kemahiran A1 berdasarkan CEFR, sementara 83,3% responden menilai bahwa bahan ajar yang digunakan saat ini tidak relevan dengan kebutuhan profesional mereka di masa depan. Penelitian ini juga mengidentifikasi lima domain komunikasi utama yang menjadi prioritas pembelajaran, yaitu narasi pemanduan wisata (94,2%), interaksi resepsionis hotel (91,7%), komunikasi layanan restoran (87,5%), penanganan keluhan wisatawan (79,2%), dan penulisan promosi pariwisata (72,5%). Selain itu, hasil analisis dokumen menunjukkan bahwa tidak satu pun bahan ajar yang dianalisis memuat konteks pariwisata Indonesia, dan terdapat empat domain leksikal penting yang sama sekali belum tercakup. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian yang signifikan antara bahan ajar ESP yang tersedia dengan kebutuhan nyata peserta didik. Di sisi lain, hasil penelitian ini juga memberikan dasar empiris yang kuat bagi pengembangan bahan ajar yang relevan secara budaya dan berakar pada konteks lokal, khususnya dalam pendidikan pariwisata dan perhotelan di Sumatera Utara.  

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

jkip

Publisher

Subject

Education Languange, Linguistic, Communication & Media Mathematics Other

Description

Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan is a journal that contains articles on research results in the field of teacher training and education. Articles published in Tut Wuri Handayani have gone through a peer-review process, to maintain the best quality of articles in scientific ...