Amerta
Vol. 44 No. 1 (2026)

Pelestarian Lokomotif Uap Silukah di Kabupaten Sijunjung: Evaluasi dalam Kerangka Cultural Heritage Management

Ivo Giovanni (Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Indonesia)
Mentari Halimun (Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Indonesia)
Isman Pratama Nasution (Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Indonesia)



Article Info

Publish Date
04 Jun 2026

Abstract

Abstract. Preservation of The Silukah Steam Locomotive in Sijunjung Regency: Evaluation Within the Framework of Cultural Heritage Management. The Silukah Steam Locomotive is a remnant of the Muaro Sijunjung–Pekanbaru railway construction during the Japanese occupation, closely associated with memories of forced labor involving romusha and prisoners of war. As a cultural heritage asset with significant historical, social, and humanitarian values, it faces challenges related to material deterioration, limited planning, and low community involvement in management processes. This study aims to evaluate the preservation of the Silukah Steam Locomotive within the framework of Cultural Heritage Management by positioning preservation as part of broader heritage management strategies. The research employs a qualitative approach through direct observation of conservation activities and a literature review on cultural heritage management. Data were qualitatively analyzed to examine patterns of community participation, management challenges, and opportunities for sustainable development. The results indicate that preservation efforts have included inventory, heritage designation, and physical conservation involving local labor; however, community participation remains largely confined to technical roles. This study recommends the development of a values-based management plan, the strengthening of community roles in strategic decision-making, and the integration of educational use supported by appropriate institutional frameworks. Keywords: Silukah Steam Locomotive, Cultural heritage management, Conservation, Community- based management   Abstrak. Lokomotif Uap Silukah merupakan tinggalan pembangunan jalur kereta api Muaro Sijunjung–Pekanbaru pada masa pendudukan Jepang yang sarat memori penderitaan akibat kerja paksa romusha dan tawanan perang. Sebagai warisan budaya dengan nilai historis, sosial, dan kemanusiaan yang tinggi, lokomotif ini menghadapi tantangan degradasi material, keterbatasan perencanaan, serta rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelestarian Lokomotif Uap Silukah dalam kerangka Cultural Heritage Management dengan menempatkan pelestarian sebagai bagian dari strategi pengelolaan warisan budaya yang lebih luas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi langsung pada kegiatan konservasi dan studi literatur terkait pengelolaan cagar budaya. Data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi dinamika pelibatan masyarakat, tantangan pengelolaan, serta peluang pengembangan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian telah dilakukan melalui inventarisasi, penetapan cagar budaya, dan konservasi fisik dengan melibatkan tenaga lokal, namun partisipasi masyarakat masih terbatas pada aspek teknis. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan rencana pengelolaan berbasis nilai, penguatan peran komunitas dalam pengambilan keputusan, serta integrasi pemanfaatan edukatif dan dukungan kelembagaan. Kata kunci: Lokomotif Uap Silukah, Pengelolaan cagar budaya, Konservasi, Pengelolaan berbasis komunitas

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

amerta

Publisher

Subject

Religion Arts Humanities Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences

Description

Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not ...