p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Amerta
Isman Pratama Nasution
Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelestarian Lokomotif Uap Silukah di Kabupaten Sijunjung: Evaluasi dalam Kerangka Cultural Heritage Management Ivo Giovanni; Mentari Halimun; Isman Pratama Nasution
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2026.13401

Abstract

Abstract. Preservation of The Silukah Steam Locomotive in Sijunjung Regency: Evaluation Within the Framework of Cultural Heritage Management. The Silukah Steam Locomotive is a remnant of the Muaro Sijunjung–Pekanbaru railway construction during the Japanese occupation, closely associated with memories of forced labor involving romusha and prisoners of war. As a cultural heritage asset with significant historical, social, and humanitarian values, it faces challenges related to material deterioration, limited planning, and low community involvement in management processes. This study aims to evaluate the preservation of the Silukah Steam Locomotive within the framework of Cultural Heritage Management by positioning preservation as part of broader heritage management strategies. The research employs a qualitative approach through direct observation of conservation activities and a literature review on cultural heritage management. Data were qualitatively analyzed to examine patterns of community participation, management challenges, and opportunities for sustainable development. The results indicate that preservation efforts have included inventory, heritage designation, and physical conservation involving local labor; however, community participation remains largely confined to technical roles. This study recommends the development of a values-based management plan, the strengthening of community roles in strategic decision-making, and the integration of educational use supported by appropriate institutional frameworks. Keywords: Silukah Steam Locomotive, Cultural heritage management, Conservation, Community- based management   Abstrak. Lokomotif Uap Silukah merupakan tinggalan pembangunan jalur kereta api Muaro Sijunjung–Pekanbaru pada masa pendudukan Jepang yang sarat memori penderitaan akibat kerja paksa romusha dan tawanan perang. Sebagai warisan budaya dengan nilai historis, sosial, dan kemanusiaan yang tinggi, lokomotif ini menghadapi tantangan degradasi material, keterbatasan perencanaan, serta rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelestarian Lokomotif Uap Silukah dalam kerangka Cultural Heritage Management dengan menempatkan pelestarian sebagai bagian dari strategi pengelolaan warisan budaya yang lebih luas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi langsung pada kegiatan konservasi dan studi literatur terkait pengelolaan cagar budaya. Data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi dinamika pelibatan masyarakat, tantangan pengelolaan, serta peluang pengembangan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian telah dilakukan melalui inventarisasi, penetapan cagar budaya, dan konservasi fisik dengan melibatkan tenaga lokal, namun partisipasi masyarakat masih terbatas pada aspek teknis. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan rencana pengelolaan berbasis nilai, penguatan peran komunitas dalam pengambilan keputusan, serta integrasi pemanfaatan edukatif dan dukungan kelembagaan. Kata kunci: Lokomotif Uap Silukah, Pengelolaan cagar budaya, Konservasi, Pengelolaan berbasis komunitas
Negosiasi Identitas dan Agensi Sosial dalam Penempatan Tokoh Islam pada Klenteng-Klenteng abad ke-19 di Jakarta Barat: Kajian Teori Strukturasi Regina Artanevia; Isman Pratama Nasution
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2026.13429

Abstract

Abstract. Identity Negotiation and Social Agency in the Placement of Islamic Figures within 19th- Century Chinese Temples in West Jakarta: A Study of Structuration Theory. The Chinese in Batavia brought they ancestral beliefs that manifested in temples. Vihara Padi Lapa, Vihara Dharma Tedja, and Vihara Khema, are West Jakarta temples that have local Islamic figures as their gods. Therefore, the research problem include practice of placing Islamic figures in Jakarta temples viewed from a structuration perspective. The research aims to explain the dialectical relationship between agents and structures that underlie the social practice of worshipping Islamic figures in these temples. Data was collected through observation, literature study, and interviews. Observation captured the visual context of the placement of figures, a literature study to obtain historical data, and interviews to find out the existing conditions of the temples. Analysis and interpretation applied the structuration theory by Anthony Giddens. The application of structuration theory is expected to add perspective in interpreting social processes in archaeological data. The research reveals that the placement of Islamic figures in temples was related to the protection of the Chinese community from other incidents, like the massacres of 1740. The temple caretakers act as agents who reproduce the structure. The placement and worship of Islamic figures in temples is a form of structural reproduction by representing them as “Thian”. The old structure of Chinese society has not been abandoned but has undergone adjustments that encourage identity negotiation. Keywords: Islamic figures, Structuration, Vihara Padi Lapa, Vihara Dharma Tedja, Vihara Khema   Abstrak. Orang-orang Tionghoa yang datang ke Batavia turut membawa kepercayaannya yaitu pemujaan leluhur yang diwujudkan dalam klenteng. Vihara Padi Lapa, Vihara Dharma Tedja, dan Vihara Khema merupakan klenteng di Jakarta yang menempatkan tokoh-tokoh Islam lokal yang dipuja sebagai dewa dan dewi. Oleh karena itu, permasalahan penelitian mencakup praktik penempatan tokoh- tokoh Islam pada klenteng-klenteng di Jakarta dalam perspektif strukturasi. Tujuan penelitian adalah menjelaskan hubungan dialektis antara agen dan strukur yang melatarbelakangi praktik sosial berupa pemujaan tokoh Islam lokal pada tiga klenteng tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mendapatkan konteks visual dari penempatan tokoh dalam klenteng, studi pustaka untuk mendapat data sejarah, dan wawancara untuk mengetahui kondisi terkini dari ketiga klenteng. Analisis dan interpretasi mengaplikasikan teori strukturasi yang digagas oleh Anthony Giddens. Pengaplikasian teori strukturasi diharapkan dapat menambah perspektif dalam menginterpretasikan proses sosial pada data arkeologi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penempatan tokoh-tokoh Islam dalam klenteng berkaitan dengan perlindungan untuk komunitas Tionghoa dari peristiwa yang serupa dengan pembantaian pada tahun 1740. Pengelola klenteng berperan sebagai agen yang mereproduksi struktur. Penempatan dan pemujaan tokoh Islam lokal pada klenteng merupakan wujud reproduksi struktur dengan merepresentasikan tokoh Islam lokal menyerupai Thian. Struktur lama masyarakat Tionghoa tidak ditinggalkan tetapi mengalami penyesuaian-penyesuaian yang mendorong terjadinya negosiasi identitas. Kata kunci: Tokoh Islam, Strukturasi, Vihara Padi Lapa, Vihara Dharma Tedja, Vihara Khema
Studi Konseptual Upaya Pelestarian Tinggalan Budaya Kawasan Batujaya Melalui Pendekatan STEAM dalam Pendidikan Mita Indraswari; Hafnidar; Isman Pratama Nasution
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2026.14972

Abstract

 Abstract. A Conceptual Study on Preservation of Batujaya Sites Through a STEAM Approach in Education. Preservation of cultural heritage is a dynamic process mandated by Law No. 11 of 2010 concerning Cultural Heritage and UNESCO guidelines, both of which emphasize the critical role of community participation. The Batujaya Site represents evidence of early civilization on the northern coast of Java Island, requiring sustainable preservation efforts by instilling its significance in the younger generation. This study aims to formulate the integration model of cultural heritage preservation at the Batujaya Site into school curricula to enhance students' understanding and pride, empowering them as active agents of heritage conservation. The research provides functional solutions for preservation and education by fostering public education through the STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) framework. STEAM is a transformative educational approach by utilizing the results of cultural heritage research with school learning. Utilizing a literature study method, this research synthesizes various studies concerning the Batujaya Site and STEAM approach. The implementation of multidisciplinary STEAM learning has been proven to provide critical and concrete learning experiences in several European and Asian countries, including Indonesia. The findings of this study are expected to not only enhance students' critical and innovative thinking skills but also contribute to the long-term sustainability of cultural heritage preservation. Research on the integration of cultural heritage preservation and STEAM represents a novel contribution to heritage preservation studies in Indonesia. The proposed integration model is expected not only to enhance students’ critical and innovative thinking skills but also to contribute to sustainable cultural heritage preservation. Keywords: Batujaya Site, Sustainable Preservation, STEAM, Public Education, Cultural Heritage   Abstrak. Pelestarian cagar budaya merupakan upaya dinamis yang diamanatkan oleh Undang- Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan UNESCO dengan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Kawasan Batujaya adalah bukti peradaban awal di pesisir Utara Pulau Jawa, memerlukan upaya pelestarian berkelanjutan melalui pengenalan nilai penting kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model integrasi pelestarian tinggalan budaya di Kawasan Batujaya ke dalam pembelajaran di sekolah untuk meningkatkan pemahaman dan rasa bangga pelajar sebagai agen aktif pelestari cagar budaya. Manfaat penelitian ini untuk memberikan solusi berdaya guna bagi pelestarian dan pendidikan dalam mendorong keterlibatan publik melalui pendekatan pendidikan publik yaitu STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). STEAM menjadi pendekatan edukatif yang transformatif dengan memanfaatkan hasil penelitian tinggalan budaya dengan pembelajaran di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan mengumpulkan berbagai hasil kajian mengenai Kawasan Batujaya dan STEAM. Penggunaan STEAM pada pembelajaran di sekolah dengan implementasi multidisiplin ilmu telah terbukti memberikan pengalaman belajar kritis dan konkret bagi pelajar di beberapa negara Eropa dan Asia termasuk di Indonesia. Penelitian mengenai integrasi tinggalan budaya dengan STEAM menjadi kajian baru dalam kajian pelestarian tinggalan budaya di Indonesia. Model integrasi ini menjadi hasil penelitian yang diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan inovatif pelajar namun juga dapat meningkatkan pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan. Kata kunci: Kawasan Batujaya, Pelestarian Berkelanjutan, STEAM, Pendidikan Publik, Cagar Budaya