Wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia merupakan kawasan strategis yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai ancaman, baik tradisional maupun non-tradisional seperti penyelundupan, perdagangan manusia, dan infiltrasi lintas batas. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara kondisi ideal (das sollen) dan kondisi faktual (das sein) dalam pelaksanaan fungsi intelijen di perbatasan, khususnya terkait efektivitas deteksi dini oleh Deninteldam XII/Tanjungpura. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran Deninteldam XII/Tanjungpura melalui fungsi penyelidikan dalam rangka deteksi dini, mengkaji kolaborasi antarinstansi dalam pencegahan pelanggaran lintas batas, serta merumuskan strategi penyelidikan yang efektif dalam mendukung tugas pokok TNI AD. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, serta analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi penyelidikan Deninteldam telah diterapkan secara sistematis melalui siklus intelijen yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, meskipun masih menghadapi kendala koordinasi dan keterbatasan sumber daya. Kolaborasi Deninteldam dengan Satgas Pamtas, Polda Kalbar, Imigrasi, dan Bea Cukai telah meningkatkan efektivitas deteksi dini di lapangan. Strategi penyelidikan yang diterapkan berorientasi pada intelijen preventif berbasis integrasi sumber daya manusia, teknologi, dan jejaring sosial. Kesimpulannya, peran Deninteldam XII/Tanjungpura melalui fungsi penyelidikan terbukti signifikan dalam memperkuat sistem pertahanan negara dan menjaga kedaulatan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Copyrights © 2026