Di tengah tren peningkatan keluarga ibu tunggal yang fluktuatif secara nasional, literatur anak saat ini masih didominasi oleh narasi keluarga nuklir yang terjebak dalam fenomena pseudo-monoparentalitas serta pengaburan realitas keluarga nontradisional. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam konstruksi makna visual serta resepsi afektif anak ibu tunggal terhadap representasi keberagaman keluarga melalui studi kasus kualitatif pada dua subjek berusia enam dan tujuh tahun. Dengan mengintegrasikan analisis wacana multimodal dan analisis resepsi mikro, penelitian ini mengungkap adanya hegemoni normativitas biparental yang sangat kuat meski figur ibu ditonjolkan secara dominan dalam berbagai ilustrasi buku cerita. Temuan utama menunjukkan fenomena affective avoidance, di mana anak mampu menginternalisasi narasi kasih sayang ibu, tetapi menunjukkan resistensi emosional yang signifikan terhadap visualisasi yang merefleksikan trauma kehilangan atau ketiadaan figur ayah secara jujur. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi penting pada pemahaman mengenai beban realisme dan mekanisme pertahanan diri psikologis anak terhadap representasi visual yang berpotensi memicu duka atau trauma emosional pribadi. Secara praktis, hasil riset ini merekomendasikan reorientasi strategi desain buku cerita sebagai instrumen validasi sosial dan ruang komunikasi aman bagi keluarga nontradisional guna memitigasi risiko alienasi emosional pada anak usia dini.
Copyrights © 2026