Perkembangan teknologi AI yang semakin canggih, responsif, dan personal meningkatkan kecenderungan iindividu untuk menggunakannya. Chatbot seperti ChatGPT tidak hanya dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan, melainkan untuk berbagi perasaan dan pikiran pribadi melalui self-disclosure. Dalam konteks ini, ChatGPT bukan hanya produk AI, melainkan produksi yang dikonstruksi secara sosial oleh penggunanya. Penelitian ini mengeksplorasi mengapa pengguna lebih memilih melakukan self-disclosure kepada ChatGPT dibandingkan kepada manusia dalam konteks interaksi manusia dan AI. Dengan menggunakan konsep Human-AI Communication, Social Construction of Technology (SCOT) dan self-disclosure, penelitian ini menganalisis empat tahap proses self-disclosure terhadap ChatGPT. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur via aplikasi Zoom terhadap tiga informan yang dipilih secara purposif. Hasilnya menunjukan bahwa pengguna memilih untuk melakukan self-disclosure kepada ChatGPT bukan hanya karena fungsinya sebagai alat bantu teknis, tetapi juga karena perannya sebagai entitas sosial yang kompleks. ChatGPT juga memberikan respons yang cepat, validatif, dan tanpa penilaian. Fenomena ini menegaskan bahwa ChatGPT berfungsi sebagai teknologi AI yang mendengarkan dan mendukung, sehingga menjadikannya pilihan yang menarik untuk self-disclosure para penggunanya.
Copyrights © 2026