Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Inovasi Digital Dalam Promosi Media Sosial Melalui Fitur Kolaborasi Instagram @nyaimercon Paramita Winny Hapsari; Dinda Shafira; Iqra Ardini; Muhammad Syukri
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2024): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v8i2.11126

Abstract

Perkembangan digital yang pesat telah mengubah pemasaran tradisional menjadi pemasaran berbasis media sosial yang interaktif. Salah satu platform populer di Indonesia adalah Instagram, yang menyediakan berbagai fitur pemasaran seperti fitur kolaborasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fitur kolaborasi Instagram terhadap kesadaran merek (brand awareness) dan keputusan pembelian pada merek makanan cepat saji Nyai Mercon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Sampel penelitian terdiri dari 187 responden yang terpapar konten kolaborasi Instagram @nyaimercon. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa fitur kolaborasi memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan kesadaran merek dan keputusan pembelian, baik secara langsung maupun melalui mediasi kesadaran merek. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya optimalisasi fitur kolaborasi untuk meningkatkan efektivitas pemasaran digital dan daya saing UMKM di pasar global.
Self-Disclosure dalam Interaksi Manusia dan AI: Studi Kualitatif Pengguna ChatGPT melalui Perspektif Social Construction of Technology Iqra Ardini; Dinda Shafira
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/p8kvy260

Abstract

Perkembangan teknologi AI yang semakin canggih, responsif, dan personal meningkatkan kecenderungan iindividu untuk menggunakannya. Chatbot seperti ChatGPT tidak hanya dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan, melainkan untuk berbagi perasaan dan pikiran pribadi melalui self-disclosure. Dalam konteks ini, ChatGPT bukan hanya produk AI, melainkan produksi yang dikonstruksi secara sosial oleh penggunanya. Penelitian ini mengeksplorasi mengapa pengguna lebih memilih melakukan self-disclosure kepada ChatGPT dibandingkan kepada manusia dalam konteks interaksi manusia dan AI. Dengan menggunakan konsep Human-AI Communication, Social Construction of Technology (SCOT) dan self-disclosure, penelitian ini menganalisis empat tahap proses self-disclosure terhadap ChatGPT. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur via aplikasi Zoom terhadap tiga informan yang dipilih secara purposif. Hasilnya menunjukan bahwa pengguna memilih untuk melakukan self-disclosure kepada ChatGPT bukan hanya karena fungsinya sebagai alat bantu teknis, tetapi juga karena perannya sebagai entitas sosial yang kompleks. ChatGPT juga memberikan respons yang cepat, validatif, dan tanpa penilaian. Fenomena ini menegaskan bahwa ChatGPT berfungsi sebagai teknologi AI yang mendengarkan dan mendukung, sehingga menjadikannya pilihan yang menarik untuk self-disclosure para penggunanya.
Rethinking Cultural Proximity: Transnational Taste Formation Among Indonesian Female Audiences Of Boys’ Love Media Paramita Winny Hapsari; Dinda Shafira; Iqra Ardini
JHSS (JOURNAL OF HUMANITIES AND SOCIAL STUDIES) Vol. 10 No. 01 (2026): JHSS (Journal of Humanities and Social Studies)
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jhss.v10i1.142

Abstract

This study examines how Indonesian female audiences construct cultural proximity toward Boys’ Love (BL) media through transnational exposure rather than local cultural affiliation. Although BL has gained significant popularity in Indonesia through Asian productions, locally produced BL content does not automatically achieve cultural closeness among audiences. This research addresses the gap in cultural proximity studies by questioning the assumption that local media inherently resonates more strongly with local audiences. Using a qualitative case study approach, data were collected through Focus Group Discussions (FGDs) involving two groups of Indonesian women: fans of Asian BL and non-viewers of BL. Participants were exposed to selected clips of Indonesian BL content and invited to share their interpretations, emotional responses, and evaluations. The data were analyzed thematically with cultural proximity as the primary analytical lens, supported by reception theory. The findings reveal that cultural proximity among BL audiences is shaped more by repeated exposure to transnational BL media, particularly from Thailand and Japan, than by national or cultural similarity. BL fans developed transnational taste standards related to narrative style, emotional tone, and production quality, which influenced their evaluation of Indonesian BL content. In contrast, non-viewers tended to rely on local moral and cultural frameworks when interpreting BL media. This study concludes that cultural proximity in the digital media environment is increasingly transnational and affective, suggesting the need to rethink cultural proximity beyond national boundaries in contemporary audience research.