Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia merupakan kebijakan strategis untuk mengatasi masalah stunting dan gizi buruk, namun pelaksanaannya rentan terhadap krisis komunikasi, baik terkait isu anggaran maupun kualitas implementasi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan implikasi strategis bagi komunikasi krisis MBG melalui studi komparatif terhadap penanganan krisis pada program pangan publik di India (Pradhan Mantri Poshan Shakti Nirman) dan China (Nutrition Improvement Program). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif, penelitian ini menganalisis pola respons krisis kedua negara melalui kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dan Two-Way Symmetrical Model. Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan: India cenderung menerapkan strategi Rebuilding yang mengedepankan akuntabilitas terbuka dan tindakan korektif dialogis, sementara China berfokus pada pemulihan citra otoritas melalui kontrol informasi dan penindakan hukum tegas. Berdasarkan pembelajaran tersebut, penelitian ini merekomendasikan bahwa pemerintah Indonesia harus mengadopsi strategi "Akuntabilitas Proaktif" dengan menjadikan strategi Rebuilding—meliputi permintaan maaf tulus (mortification) dan perbaikan terukur—sebagai mandat respons krisis. Pendekatan ini perlu didukung oleh mekanisme dialog simetris untuk menjaga legitimasi kebijakan dan kepercayaan publik dalam sistem demokrasi.
Copyrights © 2026